Archive for the 'Fiqh Dakwah' Category

23
Jan
09

Jihad adalah solusi untuk menghadapi Zionis

w11

Ditulis oleh: Hasan Mahmud
Penerjemah: Abu Ahmad

Ustadz Muhammad Mahdi Akif, mursyid Am Ikhwanul Muslimin menegaskan bahwa sejarah dan fakta telah menetapkan bahwa tidak ada gunanya berhubungan dengan Zionis oleh karena tabiatnya yang buruk, tipu daya dan kejahatan mereka, dan berbagai aksi pelanggaran terhadap perdamaian, kesepakatan, inisiatif, pertemuan, perjanjian, konsensus internasional bahkan lembaga-lembaga internasional kecuali jihad, sehingga menjadikan mereka jera dan menjadi obat ampuh bagi mereka.

Dalam risalah pekanan nya beliau menegaskan bahwa sudah seharusnya kita menggunakan jihad yang suci ini dengan menggunakan berbagai kemampuan dan kekuatan untuk menghadapi kebrutalan dan barbariyah yang telah membunuh secara biadab banyak warga sipil di Gaza; di tengah mandulnya peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan adanya konspirasi pemimpin, penguasa dan rezim di negara-negara Arab.

Karena itu, beliau menyampaikan kewajiban melakukan jihad secara menyeluruh dengan berbagai macam bentuk dan maknanya, dimulai dengan jihad melawan diri sendiri (hawa nafsu) dan syaitan dan berakhir dengan peran serta negara-negara Arab dan Islam untuk melakukan jihad dengan tangan dan senjata sehingga dapat mendukung perjuangan mereka, dan menegaskan pula sudah selayaknya setiap faksi dan kelompok masyarakat Arab dan Muslim lainnya untuk mengumumkan jihad dan mengerahkan segala apa yang dimiliki dan berbagai sarana yang ada, untuk membela dan mendukung warga dan pejuang di Gaza, tidak tunduk pada ikatan atau kungkungan yang dapat menghalangi kewajiban menunaikan jihad yang suci. Continue reading ‘Jihad adalah solusi untuk menghadapi Zionis’

19
Jan
09

Sosok Rijalud Dakwah

Barangsiapa berpegang teguh pada Islam secara sempurna, ia tak dapat digoyahkan oleh manusia bahkan gunung sekalipun. Tak dapat dihalangi oleh berbagai ujian, kekerasan dan rasa takut.
Sesungguhnya da’wah menjadi tinggi dan mulia dengan ketinggian dan kemuliaan pendukungnya. Harakah Ikhwan mengakui, hal positif dan negatif dari manhaj teoritisnya yang dapat diambil pada buku-buku yang sudah disebarluaskan, bagaimana tingkat ketsiqahan anggotanya terhadap manhaj. Diantaranya adalah menganalisa suatu masalah, sebagaimana terlihat dalam sikap dan tindakan
mereka.

Namun tindakan pribadi (fardi) juga berbagai pemyataan spontan atas berbagai masalah, hal tersebut sama sekali tidak mencerminkan harakah secara umum. Sebab memang demikianlah tabi’at suatu pertumbuhan, yang juga erat dengan situasi kondusif yang mendukung prilaku tersebut. Di sini, akan kami paparkan contoh-contoh pribadi yang hendak dihasilkan Ikhwan melalui proses tarbiyah dan arahan mereka. Semua ini tentu saja terwujud setelah taufiq dari Allah swt. Continue reading ‘Sosok Rijalud Dakwah’

28
Aug
08

Indibath

Ada orang yang melihat semut sebagai hewan kecil yang rakus, (hanya) karena sangat aktif mengumpulkan bahan makanan jauh lebih banyak dari panjang usia yang mungkin dijalaninya. Bahwa nama semut menjadi sebutan bagi salah satu dari 114 surat Al-Quran, memang tidak menjadi jaminan mereka tercela atau tidak, berbeda dari semisal Al-Munafiqun dan Al-Kafirun atau nama-nama lain seperti anjing (QS. 7:176), kera dan babi (QS. 5: 60). Tetapi kalau bukan untuk tujuan terpuji, untuk apa nama itu disebut dalam kitab suci, seperti surat An-Naml atau An-Nahl?

Konon bila ada seekor semut berjalan berputar-putar atau zigzag, maka artinya ia memang sedang bertugas mencari bahan makanan bagi kaumnya. Bila menemukan sepotong daging, kembang gula atau makanan lainnya, dijamin ia tak akan menghabiskan atau mengangkutnya sendirian. Ia akan berputar-putar sejenak untuk mengukur dan menghitung berapa pasukan semut yang diperlukan. Pulang ke sarang ia berjalan lurus dengan melepaskan asam semut melalui ekornya yang akan menjadi garis navigasi bagi para pekerja yang akan melaluinya dengan disiplin. Coba-cobalah meletakkan sekeping cokelat atau gula di tepi garis asam semut itu, mereka tetap takkan tergoda. Demikian akurat semut menggunakan intuisinya yang mengajarkan manusia kapan musim hujan dan musim kemarau akan datang, demikian pula disiplin mereka. Mereka tak bersuara, namun bekerja. Menimbun logistik untuk musim yang lebih panjang dari usia mereka, tetapi bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan kepentingan kaum dan bangsa. Continue reading ‘Indibath’

20
Feb
08

Berdakwah dengan lemah lembut

Ada sebuah buku yang sangat menarik untuk dibaca dan tentu saja untuk dikaji. Buku itu berjudul nahnu du’atun, la qudhaatun. Yang artinya, kita adalah para da’I, bukan tukang vonis ( hakim ). Buku ini sangat menarik jika dikaitkan dengan bagaimana menyampaikan dakwah kepada masyarakat. Dakwah memiliki sifat menyeru, mengajak, dan adanya proses tawar menawar ( selama tidak bertentangan dengan syariat ).

Dalam dakwah ada beberapa kaidah yang sering dipakai yaitu:”memberi berita gembira, bukan menakut-nakuti”.
Dan memang yang menetapkan kaidah tersebut adalah baginda Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim:

Dari Abu Musa r.a. ia berkata :”Rasulullah saw, setiap kali mengutus seorang dari sahabatnya untuk suatu urusan, beliau bersabda, “ berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari, permudah dan jangan mempersulit”.

Oleh Karena itu, jika di dalam buku tersebut diceritakan bahwa ada sekelompok dai yang senang memvonis, jelas hal tersebut tidak sejalan dengan kaidah dakwah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah saw. Bahkan di dalam Al-Qur’an dengan terang benderang telah dijelaskan kepada kita bahwa dengan pendekatan dakwah yang baik ( billati hiya ahsan ), seorang yang tadinya sangat memusuhi dakwah bisa berubah menjadi seakan-akan teman yang sangat dekat. Continue reading ‘Berdakwah dengan lemah lembut’

11
Feb
08

Siyasatud da’wah dalam harakah islamiyah – bag (-1)

oleh: abu hasna

Bagi yang berkecimpung dalam dunia dakwah, memahami siyasatud da’wah merupakan sebuah keharusan. Ada banyak dai yang aktif berdakwah, namun tidak memahami siyasatud da’wah sehingga seperti tidak memiliki program yang jelas. Siyasatud da’wah sangat erat kaitannya dengan minhajud da’wah. Karenanya dalam suatu gerakan da’wah yang tidak memiliki manhaj, mustahil bisa ditemukan siyasatud da’wah
Terdapat pemahaman yang keliru yang berkembang dikalangan masyarakat, baik masyarakat awam maupun masyarakat yang intelek. Mereka beranggapan bahwa “siyasah” merupakan ilmu politik. Padahal siyasah disini adalah lebih pada aktifitas politik praktis da’wah dan bukan pada ilmu politik. Karena Islam memiliki pola politik sendiri yang khas yang berbeda dengan politik kebanyakan.

Siyasatud da’wah mencakup aktifitas da’wah yang dilakukan oleh para aktifis da’wah baik di sturktural maupun fungsional. Sehingga runag lingkup da’wah mencakup “pengendakian da’wah” dan “problematika-problematika da’wah”
Du’at yang mampu memahami siyasatud da’wah, maka dia akan mampu menyusun program secara terencana dan terkontrol sehingga bermuara pada kemampuan beramal jamaah yang tinggi( Isti’ah amal jama’I ) Continue reading ‘Siyasatud da’wah dalam harakah islamiyah – bag (-1)’

07
Feb
08

Memperbaiki diri sebelum memperbaiki sistem

Oleh: Dr. Yusuf Qaradhawi

DI ANTARA prioritas yang dianggap sangat penting dalam usaha perbaikan (ishlah) ialah memberikan perhatian terhadap pembinaan individu sebelum membangun masyarakat; atau memperbaiki diri sebelum memperbaiki sistem dan institusi. Yang paling tepat ialah apabila kita mempergunakan istilah yang dipakai oleh al-Qur’an yang berkaitan dengan perbaikan diri ini; yaitu:

“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keaduan yang ada pada diri mereka sendiri…” (ar-Ra’d: 11)

Inilah sebenarnya yang menjadi dasar bagi setiap usaha perbaikan, perubahan, dan pembinaan sosial. Yaitu usaha yang dimulai dari individu, yang menjadi fondasi bangunan secara menyeluruh. Karena kita tidak bisa berharap untuk mendirikan sebuah bangunan yang selamat dan kokoh kalau batu-batu fondasinya keropos dan rusak. Continue reading ‘Memperbaiki diri sebelum memperbaiki sistem’

07
Feb
08

Syarah Ushul Isyrin – prinsip pertama (bag-2)

Pensyarah: Muhammad Abdullah al-Khatib

(sambungan bagian 1)

Al-Imam as-syahid telah menjelaskan prinsip ini dan menerangkannya kepada setiap orang yang mempunyai pemahaman dalam banyak risalahnya. Beliau berkata dalam risalah Muktamar Kelima di bawah tajuk: “Islam Ikhwan Muslimin”:

“Wahai saudara, izinkan saya menggunakan ungkapan ini. Saya tidak memaksudkan bahwa Islam Ikhwanul Muslimin adalah Islam yang baru, yang bukan dibawa oleh Sayidina Muhammad saw dari Tuhannya. Saya maksudkan bahwa kebanyakan umat Islam di kebanyakan zaman telah mencabut sifat-sifat, ciri-ciri dan batas-batas dari Islam karena mengikuti kemauan masing-masing. Mereka mempergunakan kemudahan dan keluasannya secara buruk. Sedangkan kemudahan dan keluasan itu adalah mempunyai hikmah yang tinggi. Mereka banyak membelokkan dalam memahami makna Islam dan menanamkan gambaran Islam yang bermacam-macam di dalam jiwa anak-anak mereka, meskipun gambaran itu hampir, jauh atau bertepatan dengan Islam pertama yang dibawa oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya.” Continue reading ‘Syarah Ushul Isyrin – prinsip pertama (bag-2)’