Kecerdasan Sosial dalam berdakwah

Dakwah kita adalah sebuah perubahan ke arah perbaikan, namun hendaklah kita mengetahui bahwa perbaikan tidak akan bisa terwujud jika kita bersikap eksklusif dan menutup diri. Tak bisa disangkal, kita memang harus berinteraksi dan bergaul dengan orang lain.

Sehingga pada kondisi tertentu dimana manna’ah-Islamiyyah (kekebalan Islamnya) sudah tinggi, maka dengan siapapun dia dan dari kelompok manapun asalnya, hendaklah kita bergaul dan dekati, agar dapat secara bersama-sama mewujudkan perubahan ke arah perbaikan.

Ikhwah wa akhwat fiLLAAH, bila kita tadabburi dan teliti, ternyata mayoritas ayat Al-Qur’an Al-Kariem bentuknya adalah shuwar-hiwariyyah (bentuk percakapan/dialogis yang santun). Bahkan terhadap orang kafirpun, ALLAAH SWT menggunakan panggilan yang amat santun, yaitu wahai Ahli Kitab (sampai 13 kali dalam Al-Qur’an), dan hanya 1 kali saja ALLAAH SWT memanggil dengan khithab: Wahai orang-orang yang kafir (yaitu di QS Al-Kafirun).

Kemampuan sebuah gerakan dakwah dalam mencapai kemajuan, bertumpu pada kemampuannya memahami orang lain dan menghimpun mereka semua dalam kafilahnya. Sementara kelemahan sebuah gerakan dakwah, terlihat pada ketidakpeduliannya pada orang lain dan sikap eksklusifnya di tengah masyarakat tempat dimana ia berada.

“Dan ALLAAH mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-NYA.” (An-Nisaa: 125)

“Sesungguhnya ALLAAH menjadikanku sebagai kesayangan-NYA. Dan, andai aku mengambil kesayangan dari penduduk bumi, maka aku jadikan Abu Bakar sebagai kesayanganku.” (HR Muslim, III/452)

“Kesibukan sebuah Gerakan Islam dalam aktivitas dakwah mirip petani yang menanam pohon kurma dan zaitun di kebunnya. Pohon-pohon tersebut belum dapat memberikan buah kecuali setelah beberapa tahun. Karena itu, petani sukses memanfaatkan waktu untuk menanam tanaman yang bermanfaat dan cepat memberikan hasil, seperti sayuran, timun, tomat, lada, dan sejenisnya. Menurutku, tindakan petani itu dapat diterima dan tidak mungkin dipersalahkan oleh orang yang berakal. Sebab ia memanfaatkan tanah, waktu, dan potensi dalam hal yang bermanfaat.” (DR. Yusuf Al-Qardlawi)

“Umat manusia membutuhkan kader yang luapan hatinya menggenangi hati orang-orang di sekitarnya. Selanjutnya dengan luapan ‘Rabbani’ itu pula mereka dapat menggenangi hati orang-orang di sekitar mereka. Maka dengan cara itulah, manusia berubah dari satu keadaan menuju keadaan lain dan keluar dari berbagai kegelapan menuju cahaya.” (Hasan Al-Banna)

Prinsip Umum Dalam Da’wah Ikhwan

1. IMAN YANG MENDALAM. Senjata seorang da’i yang pertama dan utama adalah aqidahnya. Karena aqidahlah yang menjadi penentu benar atau tidaknya niat yang melatarbelakangi aktifitas seorang da’i serta diterima atau tidaknya amalnya.

2. PEMAHAMAN YANG CERMAT. Pemahaman Islam yang benar dan mendalam, serta pemahaman kauniyah yang lengkap merupakan bekal terlaksananya sebuah aktifitas da’wah yang utuh.

3. INTERAKSI YANG KUAT. (Inilah yang sangat berkaitan dengan tema kita di atas). Interaksi adalah kunci sukses dalam da’wah, karena inti da’wah adalah adanya interaksi yang tepat dan intensif. Dan kecerdasan sosial sangat erat hubungannya dengan hal ini.

4. AMAL YANG BERKESINAMBUNGAN. Da’wah merupakan amal yang terus-menerus dan tiada henti-hentinya. Bekerja tanpa henti hingga tercapai tujuan dan cita-cita, tidak bimbang dan tidak ragu karena berbagai isu dan fitnah, sepanjang tidak ada bukti yang jelas maka semua itu hanyalah zhann belaka, wa innazh zhanna la yughni minal haqqi syai’an.

Dasar-dasar pemahaman Handasah Ijtima’iyyah:

1. Sunnah di alam semesta

a. Sunnah ALLAAH SWT di alam raya: Di alam semesta ini senantiasa ada sebuah titik pusat yang menjadi poros edar bagi yang lain dan mereka terpengaruh dengannya, dari yang terbesar seperti Galaksi sampai yang terkecil seperti inti atom.

b. Begitu juga seorang muslim, ia haruslah selalu menjadi titik sentral yang menjadi poros edar manusia-manusia lainnya di sekelilingnya, menjadi mercusuar yang menerangi dan memandu arah bagi sekelilingnya.

c. Sejak dahulu masyarakat Islam bermula dari seseorang yang berperan sebagai inti masyarakat yang baru lahir, yaitu Nabi SAW lalu berhimpunlah di sekelilingnya beberpa hati, demikianlah pula pda masa para Khulafa’ur Rasyidin, sampai runtuhlah Khilafah Utsmani, maka hilanglah pemandu dan pelindung bagi ummat ini.

2. Kewajiban syar’i

a. Ayat-ayat Al-Qur’an:

i. Sesungguhnya Ibrahim adalah suatu umat (yang dapat dijadikan Teladan bagi yang lainnya) (An-Nahl: 120)

ii. Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk (bintang saja bisa menjadi petunjuk bagi yang lain) (An-Nahl: 16)

iii. Maka kami tidak mempunyai pemberi syafaat seorang pun, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab (kewajiban mencari banyak teman) (Asy-Syu’araa: 100, 101)

iv. Dan ingatlah ketika Rabb-mu berfirman: Kami akan menjadikan di bumi ini seorang khalifah (khalifah bertugas memimpin ummat) (Al Baqarah: 30).

b. Dari Hadits mulia:

i. Orang yang bergaul dengan manusia dan sabar atas gangguan mereka, lebih baik daripada orang yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka. (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, II/493; Tirmidzi, III/319 dan Ahmad V/365)

ii. Inti akal setelah keimanan pada ALLAAH adalah menjalin cinta dengan sesama manusia. (HR Al-Baihaqi, lih. Dha’if Jami’, III/340)

iii. Seorang mukmin itu akrab dan mudah diakrabi, dan tidak ada kebaikan orang yang tidak demikian, dan sebaik-baik orang ialah yang paling bermanfaat bagi orang lain. (HR At-Thabrani, dalam Al-Kabir III/209; Al-Haitsami, dalam Al-Majma’ X/273-274; Al-Qadha’i, dalam Musnad Asy-Syihab, I/101; Ibnu Asakir, dalam Tarikh Dimasyq, II/420).

iv. Manusia seperti unta seratus, hampir kamu tidak mendapatkan dari kalangan mereka yang mampu memikul beban/rahilah (rahilah adalah unta kuat yang memimpin kawanan unta, dia ada di depan dan diikuti yang lain) (HR Bukhari, XXI/385)

c. Dari Sirah Nabawiyah:

i. Pemeliharaan interaksi sosial secara modern bersama kaum Quraisy, meski ada permusuhan, gangguan, penindasan, hasutan, dan pendustaan

ii. Titipan kaum Quraisy dipercayakan kepada Rasulullah SAW

iii. Rasulullah SAW adalah teladan kita. Bagaimana beliau memulai dakwah seorang diri dan kemudian mampu menghimpun di sekitarnya beberapa hati

d. Dari Atsar sahabat:

i. Imam Ali: “Wahai anakku, teman kemudian perjalanan”

ii. Ali ra.: “Bergaullah dengan manusia, hingga jika kalian hidup dalam pergaulan itu, maka mereka menyayangi kalian dan jika kalian mati dalam pergaulan itu, maka mereka akan menangisi kalian.”

iii. Ali ra.: “Manusia itu ada dua macam, saudaramu seagama, atau yang mirip denganmu dalam penciptaan”

3. Kebutuhan Dakwah yang mendesak:

a. Kami menginginkan generasi yang memikul Islam, bukan yang dipikul oleh Islam

b. Siapa tidak menambahkan sesuatu (manfaat) di dunia, maka ia adalah beban di dunia ini (Imam Ar-Rafi’i)

i. Orang yang menambah sesuatu di dunia:

1. Orang yang mempunyai obsesi, tekad dan kemauan. Ia mampu menghimpun manusia di sekitarnya dan memimpin mereka.

2. Meninggalkan pengaruh baik, sehingga kebaikan di dunia ini menjadi bertambah

ii. Orang yang menjadi tambahan di dunia:

1. Orang yang hanya hidup untuk dirinya

2. Orang yang hanya hidup menurut selera hawa-nafsunya

3. Orang yang berada di pinggiran kehidupan

c. Adalah mustahil harakah ini mampu menampung seluruh muslim dalam wilayah keanggotaan, tetapi Islam mampu menampung mereka semua dalam wilayah persaudaraan

d. Keanggotaan harakah bukan pengganti persaudaraan Islam, dan gugurnya keanggotaan tidak boleh menggugurkan persaudaraan Islam

e. Konspirasi menghendaki dakwah ini menghadapi kebatilan sendirian dan hanya bertumpu pada kekuatannya. Dan ini di luar kemampuan dakwah, sehingga kita perlu mengefektifkan peran beberapa orang dan organisasi yang tidak mau berjuang karena minimnya kesadaran dan pemahaman, atau karena takut memainkan peran aktif dalam mewujudkan tujuan-tujuan proyek Islami kita.

f. Peran kita dalam kehidupan adalah menjadi:

i. Pemimpin yang berpengaruh, mampu mengubah, dan berinteraksi dengan masyarakat dalam suka-dukanya

ii. Pemimpin yang memperhatikan umat serta kejayaannya.

iii. Pemimpin yang serius memberdayakan masyarakat dan merekayasa perubahan besar yang dapat mengibaskan debu-debu kehinaan

g. Manusia membutuhkan dekapan kasih, perhatian lebih, senyuman ramah, cinta yang mewadahi mereka, dan kesabaran yang mampu menampung kebodohan,kelemahan,dan kekurangan mereka. Mereka juga membutuhkan jiwa besar yang senantiasa memberi pada mereka dan tidak membutuhkan pemberian dari mereka. Jiwa yang juga mampu memikul keprihatinan mereka, seraya memberikan perhatian, pemeliharaan, simpati, keramahan, kecintaan, dan keridlaan (Sayyid Quthb).

h. Inti misi Harakah dakwah ini:

i. Menjaga indentitas Islam bagi masyarakat, menjaga kemurnian berbagai aspeknya dan menyempurnakan pilar-pilarnya

ii. Mengubah realita melalui pembinaan dan bekerja melanjutkan kebangkitan

iii. Menegaskan keabadian referensi Islam bagi masyarakat dalam segala interaksi

4. Kebutuhan nyata kontemporer:

a. Tersebarnya kerusakan secara luas dan nyata di masyarakat. Tanpa komunikasi dengan masyarakat, maka akan terjadi perluasan daerah kerusakan tersebut

b. Mengusulkan alternatif nilai, budaya, dan akhlak yang berbeda secara kontras dengan nilai dan budaya yang eksis di masyarakat kita.Tujuannya adalah untuk menata ulang struktur masyarakat dengan cara memaksakan realitas nilai baru.

c. Apakah anda pernah mendengar pemimpin yang menaiki tangga-tangga kejayaan tanpa mempunyai teman setia dan pendukung?
Realitasnya: tidak ada sukses tanpa pendukung

d. Interaksi sosial adalah sarana yang menyenangkan dan murah untuk mengusir ketegangan akibat kesendirian atau uzlah. Agar anda tenang, bergaul dan berinteraksilah dengan orang lain dari waktu ke waktu

5. Fitrah manusia

a. Tidak mungkin dapat mempersepsikan dimensi manusia, kecuali melalui interaksi sosial

b. Hewan memproduk masyarakat agar bisa hidup di dalamnya, sementara kita hidup bersama manusia agar dapat membentuk masyarakat.

6. Kemestian Sosial

a. Urusan antar manusia menjadi baik karena adanya keserasian dan pergaulan

b. Manusia hidup dalam unit sosial yang bertumpu pada integralitas antara berbagai kebutuhan dan potensi yang beragam. Sebagai da’i, kita tidak bisa melanjutkan upaya, tanpa jiwa pergaulan sosial. Dan dakwah tidak mungkin maju, kecuali dengan memperhatikan keniscayaan ini.

Hikmah-hikmah yang memperkuat definisi Handasah Ijtima’iyyah

1. Kita adalah pemimpin umat dan bukan pengganti umat

2. Adalah sebuah kemustahilan bila menginginkan semua manusia berada dalam bingkai keanggotaan atau menjadi kader Harakah

3. Pergerakan Islam harus merespon berbagai tantangan, maka tidak boleh bersikap masa bodoh dan meremehkannya

4. Keniscayaan menata ulang umat menuju persatuan dan penunaian misinya yang besar

5. Pergerakan Islam bukan gerakan sekelompok umat, tetapi gerakan yang memimpin seluruh umat

6. Betapa banyak orang yang berada di tengah-tengah kita, tetapi bukan bagian dari kita. Sebaliknya betapa banyak orang yang tidak berada di tengah-tengah kita, namun menjadi bagian dari kita.

7. Kalian adalah ruh baru yang mengalir di tubuh umat, hingga dapat menghidupkannya kembali dengan Al-Qur’an

8. Kita menginginkan manusia muslim, setelah itu keluarga muslim, setelah itu masyarakat muslim, Karena itu kita berupaya agar dakwah sampai ke setiap rumah muslim, suaranya terdengar di setiap tempat, dan fikrah kita tersebar serta menembus perkampungan, desa, kota, pusat kota, dan kota besar. Kita tidak pernah lelah dan tidak akan mengabaikan satu sarana pun!

WaLLAAHu a’lamu Bish Shawaab…

This entry was posted in Fiqh Dakwah. Bookmark the permalink.