Syarah Ushul Isyrin – Prinsip pertama (bag-1)

Pensyarah: Muhammad Abdullah Al-Khatib
الإسلام نظام شامل يتناول مظاهر الحياة جميعا فهو دولة ووطن أو حكومة وأمة وهو خلق وقوة أو رحمة وعدالة وهو ثقافة وقانون أو علم وقضاء وهو مادة وثروة أو كسب وغنى وهو جهاد ودعوة أو جيش وفكرة كما هو عقيدة صادقة وعبادة صحيحة سواء بسواء
Islam adalah satu sistem yang menyeluruh yang meliputi semua aspek kehidupan. Ia adalah daulah dan tanah air ataupun negara dan umat. Ia adalah akhlak dan kekuatan ataupun rahmat dan keadilan. Ia adalah peradaban dan undang-undang ataupun ilmu dan pengadilan. Ia juga adalah materi dan kekayaan alam ataupun kerja dan kekayaan. Ia adalah jihad dan dakwah ataupun ketentaraan dan fikrah. Sebagaimana juga ia adalah akidah yang benar dan ibadah yang sahih, kesemuanya adalah sama pengiktibarannya di sisi kita. (Risalah ta’lim, Rukun Al-fahm, Prinsip pertama, Hasan Al-Banna)

Keterangan

Usul ini menegaskan tentang hakikat Islam yang penting yaitu: “Kesyumulan Islam dalam setiap aspek kehidupan”. Hakikat ini amat jelas kepada orang yang mempunyai penglihatan dan dalil-dalilnya amat banyak dari Kitab dan Sunnah. Walaupun begitu, hakikat ini dipandang ganjil oleh kebanyakan umat Islam ketika Imam Hasan Al-Banna memulai dakwahnya.

Ia dipandang ganjil oleh sebagian organisasi Islam. Mereka tidak mengambil dasar-dasar, tujuan dan ciri-cirinya di atas kesyumulan itu dan tidak menggambil wasilah-wasilah yang menggambarkan bahwa mereka mau merealisasikannya di alam nyata.
Ia dipandang ganjil oleh partai-partai politik karena mereka memisahkan agama dari politik dan menganggap bahwa kedua berlawanan dan tidak bisa bertemu.

Ia dipandang ganjil oleh sebagian ulama walaupun dalil-dalil kesyumulan itu ada di tangan mereka dan terbentang luas di depan mata mereka. Tetapi nas-nas itu tidak mendapati hati-hati yang memahaminya atau bumi yang subur untuk ia tumbuh dan berbuah.

Di tengah kemelut keganjilan ini, Al-Imam as-syahid menjelaskan tentang hakikat ini agar perhatian umat tertumpu kepada perkara tersebut. Beliau mengajak mereka agar menukarkannya kepada realitas yang nyata. Beliau telah mencurahkan tenaga yang banyak untuk menanam hakikat ini dalam dalam jiwa-jiwa umat dan mengajak mereka agar menerimanya.

Siapapun yang memperhatikan keadaan umat yang kehilangan kemuliaan pada waktu yang bersejarah tersebut akan mengetahui nilai pokok ini dan bahaya kehilangannya.

Di antara perkara yang mengaburkan nilai ushul ini dalam tempoh yang penuh kemelut itu ialah ideologi buruk sekularisme telah meresap masuk ke dalam pikiran dan hati golongan intelektual yang terdiri dari sebagian besar mahasiswa universitas, penulis dan penyair. Ideologi sekularisme mulai bersarang dalam golongan ini, lalu mereka mengingkari kesyumulan Islam dan membatasi Islam dalam ruang lingkup syiar-syiar ibadah semata-mata, tidak lebih dari itu. Bagi mereka Islam tidak ada hubungannya dengan politik, ekonomi, sosial dan semua aspek kehidupan. Umat terus tertidur dengan alunan itu, hingga datangnya Al-Imam as-syahid mengejutkan mereka dan menyeru mereka agar bangkit dan bergerak untuk mengamalkan Islam bermula dari bersiwak sampai berjihad. Beliau mengajak mereka meletakkan Islam di tempat yang sebenarnya tanpa mengubah atau mengganti, tanpa mengurangi atau menambahi.

Dalil-dalil kesyumulan

Di sana ada terdapat dalil-dalil umum tentang kesyumulan Islam dalam semua perkara dan dalil-dalil lain secara detail. Di antara dalil-dalil umum ialah firman Allah swt:
“Dan Kami turunkan Kitab kepada kamu dengan menerangkan setiap sesuatu”.(An-Nahl: 89)

Rasulullah saw bersabda kepada Qabilah Bani Syaiban bin Tsa’labah ketika memperkenalkan diri beliau dalam berdakwah kepada qabilah-qabilah di Mekah:
“Kamu tidak menolak secara jahat jika kamu menyatakan kebenaran. Sesungguhnya agama ini tidak akan ditegakkan melainkan oleh orang yang meliputinya dari segenap sudut”.(Sirah Nabawiyyah: Ibnu Katsiir: 2/163-169)

Apabila kita melihat kepada Al-Quran Al-Karim dan Sunnah Nabawiyyah, kita dapati banyak ayat yang menerangkan tentang ‘aqidah, ibadat, akhlak, berhukum dengan hukum yang diturunkan oleh Allah swt dan kehakiman, jihad dan perjanjian, hal ihwal harta benda dan perniagaan serta berbagai bidang kehidupan. Firman Allah swt:
“Diwajibkan ke atas kamu qisaas (bunuh balas) dalam (kasus) orang yang mati dibunuh”.(Al-Baqarah: 178)
“Diwajibkan ke atas kamu berpuasa”.(Al-Baqarah: 183)
“Diwajibkan ke atas kamu apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) kematian, jika ia meninggalkan harta yang banyak , berwasiat untuk ibu-bapak dan kaum kerabat secara baik”.(Al-Baqarah: 180)
“Diwajibkan ke atas kamu berperang”.(Al-Baqarah: 216)

“Apabila kamu bermu’amalah (Seperti berjual beli, berhutang piutang atau sewa-menyewa dan sebagainya) tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya”.(Al-Baqarah: 282)
“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.(Al-Baqarah: 275)
“Dan hendaklah kamu memutuskan hukuman di antara mereka dengan hukum yang diturunkan oleh Allah, dan janganlah kamu menurut hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang diturunkan Allah kepada kamu”.(Al-Maidah: 49)
Allah telah mengingkari terhadap mereka yang mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain dengan firmanNya:
“Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab dan kufur dengan sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian kecuali kehinaan dalam kehidupan dunia dan pada hari Kiamat mereka akan dikembalikan kepada azab siksa yang amat pedih”.(Al-Baqarah: 85)

Adakah cukup dengan kita hanya mengakui tentang kesyumulan Islam tanpa beramal dengannya?
Setiap orang yang melihat kepada petunjuk Rasulullah saw dan sirah salafussaleh, akan mendapati bahwa mereka beriman dengan kesyumulan Islam dan mempraktikkannya. Mereka mengambil wasilah-wasilah yang ada untuk mengubah pemahaman ini kepada realitas yang operasional, yang mempunyai kepribadian, bukannya terbatas kepada serban di atas kepala dan iman yang tersembunyi di dalam hati.

Barangsiapa yang mengakui kesyumulan Islam dalam setiap aspek kehidupan, kemudian ia membatasi kegiatannya dalam beberapa aspek saja, ia berada pada beberapa kemungkinan:

* Jika kemampuannya tidak cukup untuk melaksanakan aspek-aspek yang lain, maka beliau hendaklah membantu orang-orang lain yang beramal (’aamilin) dengan kesyumulan dengan segenap daya upaya yang mungkin.
* Adapun jika ia menghalangi mereka dan menganggap bahwa aspek yang dilaksanakannya sudah memadai, serta tidak mengulurkan bantuan maka tidak diragukan lagi ia adalah tercela.
* Jika kemampuannya mengizinkannya untuk memberi saham dalam beramal, dan ia hanya berhenti dengan satu aspek saja karena mementingkan keselamatan dan kesenangan dan tidak mau berlelah-lelah, maka ia tidak selamat dan tidak mendapat kesenangan.
* Sesungguhnya berdakwah kepada pemahaman yang syamil dan beramal dengannya dan mengakuinya adalah suatu hal mendasar dan yang selain itu adalah keliru.
* Jika tidak, tolong beritahu kepadaku wahai saudara, adakah kita telah menunaikan hak dengan sebenar-benarnya jika kita hanya berhenti pada mengetahui `dan mengakuinya tanpa beramal dan berdakwah dengannya?

(bersambung ke bagian 2)

This entry was posted in Fiqh Dakwah. Bookmark the permalink.