Syarah Ushul Isyrin – prinsip pertama (bag-2)

Pensyarah: Muhammad Abdullah al-Khatib

(sambungan bagian 1)

Al-Imam as-syahid telah menjelaskan prinsip ini dan menerangkannya kepada setiap orang yang mempunyai pemahaman dalam banyak risalahnya. Beliau berkata dalam risalah Muktamar Kelima di bawah tajuk: “Islam Ikhwan Muslimin”:

“Wahai saudara, izinkan saya menggunakan ungkapan ini. Saya tidak memaksudkan bahwa Islam Ikhwanul Muslimin adalah Islam yang baru, yang bukan dibawa oleh Sayidina Muhammad saw dari Tuhannya. Saya maksudkan bahwa kebanyakan umat Islam di kebanyakan zaman telah mencabut sifat-sifat, ciri-ciri dan batas-batas dari Islam karena mengikuti kemauan masing-masing. Mereka mempergunakan kemudahan dan keluasannya secara buruk. Sedangkan kemudahan dan keluasan itu adalah mempunyai hikmah yang tinggi. Mereka banyak membelokkan dalam memahami makna Islam dan menanamkan gambaran Islam yang bermacam-macam di dalam jiwa anak-anak mereka, meskipun gambaran itu hampir, jauh atau bertepatan dengan Islam pertama yang dibawa oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya.”

Di antara manusia ada yang memandang bahwa Islam hanya terbatas pada ibadah-ibadah lahir saja. Jika dia menunaikannya atau melihat ada orang melaksanakannya, ia merasa puas dan mengira bahwa dia telah sampai ke puncak Islam. Inilah makna yang dipahami secara meluas di kalangan umat Islam.

Ada di antara mereka yang memandang bahwa Islam hanya terbatas kepada berakhlak mulia, rohani yang bersih, memberi santapan filsafat kepada pikiran dan roh serta menjauhkan diri dari daki-daki materi.

Ada pula yang Islamnya hanya terhenti kepada perasaan takjub kepada makna-makna Islam yang hidup dan praktis ini. Dia tidak memikirkan perkara lain.

Ada golongan yang memandang bahwa Islam adalah sejenis aqidah yang diwarisi, amalan-amalan tradisi yang tidak diperlukan dan tidak membawa kemajuan. Mereka menjadi jemu dengan Islam dan setiap perkara yang mempunyai hubungan dengannya. Anda bisa mendapati makna ini secara jelas di dalam jiwa orang-orang yang berpendididkan barat yang tidak berpeluang untuk memahami hakikat Islam. Mereka tidak mengetahui sedikitpun tentang Islam, atau mengetahuinya dengan gambaran yang tercemar hasil dari pergaulannya dengan orang-orang yang tidak mengamalkan Islam secara baik dari kalangan umat Islam.

Di bawah jenis-jenis ini, terdapat lagi jenis-jenis lain yang mempunyai pandangan yang berbeda-beda tentang Islam. Hanya segolongan kecil saja di kalangan manusia yang memahami gambaran Islam yang sempurna dan jelas yang menyusun semua makna makna ini.

Gambaran yang bermacam-macam terhadap Islam di dalam jiwa manusia ini menjadikan mereka berselisih hebat dalam memahami fikrah Ikhwanul Muslimin.

Di antara manusia ada yang menggambarkan bahwa Ikhwan Muslimin adalah “tarikat sufi” yang menitikberatkan pada mengajar manusia tentang zikir-zikir, jenis-jenis ibadah dan perkara-perkara lain yang menjadikan seseorang itu ikhlas dan zuhud.

Ada pula yang menyangka bahawa Ikhwan adalah satu jamaah yang suka membahas masalah-masalah fiqh. Mereka hanya mementingkan untuk berpegang dengan beberapa hukum-hakam, berdebat padanya, mempertahankanya dan mengajak manusia agar berpegang kepada hukum-hukum tersebut. Mereka bertengkar atau berdamai dengan orang yang tidak menerimanya.

Sedikit saja di kalangan manusia yang bercampur dan bergaul dengan Ikhwanul Muslimin, yang tidak hanya mendengar semata-mata dan tidak mengambil dari Ikhwanul Muslimin Islam yang dipahami oleh mereka. Lalu golongan ini mengetahui hakikat Ikhwan dan memahami dakwah mereka secara ilmu dan amali.

Karena itu , saya ingin berbicara kepada tuan-tuan yang mulia secara ringkas tentang makna Islam dan gambarannya pada jiwa Ikhwanul Muslimin sehingga ia menjadi asas dakwah kita, kita berbanggga karena bersamanya dan mengambil bekal daripadanya secara jelas dan nyata.

Kami meyakini bahawa hukum-hukum Islam dan pengajarannya adalah syumul dan menyusun sendi-sendi kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Orang-orang yang menyangka bahawa pengajaran ini hanya meliputi aspek ibadat dan rohani semata-mata adalah salah dalam sangkaan tersebut. Ini karena Islam adalah ‘aqidah dan ibadat, tanah air dan warganegara, agama dan negara, rohani dan amal serta Al-Quran dan pedang.

Al-Quran Al-Karim menyebut tentang kesemua perkara tersebut dan menganggapnya sebagai “otak dan hati Islam” serta mewasiatkan agar melaksanakan semua perkara tadi dengan sebaik-baiknya. Inilah yang diisyaratkan oleh firman Allah swt:
“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”.(Al-Qashash: 77)

Anda juga membaca dalam Al-Quran dan juga di dalam sembahyang firman Allah swt tentang ‘aqidah dan ibadat:
“Dan mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam menjalankan agama dengan lurus . Jauh dari syirik dan kesesatan dan supaya mereka mendirikan solat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus”. Al-Bayyinah:5

Saudara juga membaca firman Allah swt tentang pemerintahan, kehakiman dan politik:
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman sehingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.(An-Nisaa’: 65)

Saudara juga membaca firman Allah swt tentang hutang di dalam perniagaan:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berhutang dalam tempoh yang tertentu, hendaklah kamu menulisnya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menulisnya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan `menulisnya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah dia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu membacakan apa yang ditulisnya itu, dan hendaklah dia bertaqwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu membacakannya, maka hendaklah walinya membacakannya secara jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi lelaki dari kalangan kamu. Jika tidak ada dua orang lelaki, maka boleh seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil, dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik sedikit maupun banyak sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu.(Tulislah hutang itu), kecuali jika ia merupakan perniagaan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli, dan janganlah penulis dan saksi saling menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian itu), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertaqwalah kepada Allah, Allah mengajarmu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.(Al-Baqarah: 282)

Saudara juga membaca firman Allah swt tentang jihad dan peperangan:
“Dan apabila kamu berada di tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hedak mendirikan sholat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (sholat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang sholat bersamamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat) Apabila selesai satu rakaat, maka diselesaikan sendiri satu rakaat lagi, dan Nabi duduk menunggu golongan yang kedua maka mereka hendaklah pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum sembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu. Dan hendaklah mereka bersiap sedia dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit dan bersiap sedialah kamu”.(An-Nisaa’: 102)

Banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan tentang perkara-perkara di atas. begitu juga dalam adab-adab umum dan hal ihwal masyarakat. Begitulah Ikhwan berhubungan dengan Kitab Allah, meminta ilham dan petunjuk darinya. Mereka meyakini kesyumulan Islam ini dan Islam mesti menguasai dan mewarnai setiap aspek kehidupan. Kehidupan mesti terikat dengan hukum-hukum Islam, berjalan dalam landasan prinsip dan pengajarannya dan merujuk kepadanya jika umat mau menjadi umat Islam yang sebenarnya.

Tetapi jika hanya Islam di sudut ibadat semata-mata dan meniru orang non Islam dalam sudut-sudut lain, maka ia bukanlah umat Islam yang sebenarnya. Mereka sama dengan umat yang disebut di dalam firman Allah swt:
“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab dan kufur dengan sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat kecuali demikian kehinaan dalam kehidupan dunia dan pada hari Kiamat mereka akan dikembalikan kepada azab siksa yang amat pedih, dan Allah tidak lalai terhadap apa yang mereka kerjakan”.(Al-Baqarah: 85)

Dalam menerangkan tentang kesyumulan Islam untuk semua manusia dan pada semua masa, Al-Imam as-syahid berkata:
“Ikhwanul Muslimin meyakini bahawa Islam adalah agama umum yang menyusun setiap aspek kehidupan yang sesuai untuk semua bangsa dan umat, pada setiap masa dan zaman. Islam datang dengan membawa ajaran yang sempurna dan lebih tinggi dari sekedar menerangkan sebagian kehidupan, lebih-lebih lagi dalam perkara yang bersifat keduniaan semata-mata. Islam hanya meletakkan kaedah umum (kulli) dalam aspek keduniaan ini dan menunjukkan kepada manusia kepada jalan amali untuk mempraktikkan dan berjalan di dalam relnya. Untuk menjamin kebenaran dalam praktik ini, Islam memberi perhatian penuh terhadap terapi hati manusia. Ini karena hati merupakan sumber sistem, alat berpikir dan menggambarkan sesuatu. Islam menunjukkan kepada hati, obat yang mujarab yang membersihkannya dari belenggu hawa nafsu, menyucikannya dari daki-daki pencarian dunia, memimpinnya ke jalan yang sempurna dan mulia serta mencegahnya dari kezaliman, keburukan dan permusuhan.

Apabila jiwa sudah baik dan bersih, maka setiap perkara yang lahir darinya adalah baik dan cantik.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa keadilan bukannya pada nas undang-undang, tetapi pada diri hakim. Kadang-kadang ada undang-undang yang sempurna dan adil diberikan kepada hakim yang mengikut hawa nafsu dan mencari kepentingan. Lalu ia melaksanakannya secara zalim dan tidak adil. Kadang-kadang ada undang-undang yang zalim dan mempunyai kekurangan diberikan kepada hakim yang mulia dan adil yang tidak menurut hawa nafsu dan tidak mencari keuntungan. Lalu beliau melaksanakannya secara adil, penuh kebaikan dan rahmat.

Dari sini, jiwa manusia sangat diutamakan di dalam Kitab Allah. Jiwa-jiwa generasi pertama yang diwarnai oleh Islam menjadi contoh insan yang kamil. Karena itu, tabiat Islam sesuai dengan setiap zaman dan umat dan mempunyai ruang yang luas untuk mencapai kejayaan dan keperluan manusia. Karena itu juga Islam tidak menolak sama sekali untuk mengambil faedah dari setiap peraturan yang baik yang tidak bertentangan dengan kaedahnya yang menyeluruh dan dasarnya yang umum”.

Home | Fiqh Dakwah 

This entry was posted in Fiqh Dakwah. Bookmark the permalink.