Pilihan-pilihan Israel di Gaza

Abdul Bari Athwan
( Al-Quds Arabi London )

Salah jika Israel meyakini bahwa invasinya ke Jalur Gaza akan menjatuhkan gerakan Hamas dan memberikan keamanan kepada wilayah bagian selatan di Sidrot dan Asqalan. Sebab, Israel sudah pernah menjajah Jalur Gaza bertahun-tahun kemudian akhirnya menarik diri dari sana secara sepihak. Penarikan itu bukan karena kasihan kepada Palestina dan ingin menghentikan penderitaan mereka, namun ingin mengurangi kerugian militer dan fisik Israel.

Hayeem Ramon, wakil PM Israel kemarin mengatakan, usia Hamas di Jalur Gaza tinggal menghitung hari dan organisasinya akan hancur dalam hitungan bulan. Sementara Ehud Barak, Menhan Israel mengatakan, dirinya memberikan lampu hijau kepada pimpinan militer untuk memasang rencana invasi ke Jalur Gaza. Namun, kedua elit Israel tersebut tidak mengatakan bagaimana invasi itu dilakukan? Bagaimana kondisi Gaza setelah itu? Artinya, apa pihak mana yang akan menduduki posisi Hamas dan pemerintahannya jika invasi Israel berhasil?

Bisa jadi Israel melakukan kesalahan yang sama yang dilakukan oleh Amerika Serikat di Irak. Dimana penggulingan dan perubahan pemerintahan begitu mudah terjadi sebab ketimpangan kekuasan militer yang ada dan kwalitas persenjataan. Namun yang paling sulit adalah menciptakan sistem alternatif untuk mengendalikan situasi, bahkan mustahil. Tank-tank Israel bisa saja masuk Jalur Gaza sebab tak ada perbukitan dan lembah. Yang ada hanya tumpukan daging manusia dengan dada terbuka, pemuda-pemudi yang merindukan kesyahidan dengan secepatnya. Sudah pasti Israel akan mendapatkan perlawanan yang amat kuat dan militer penjajah akan mengalami kerugian besar. Pada akhirnya, Israel akan menginvasi Jalur Gaza kembali dan menggerus Hamas beserta kekuatannya. Bisa jadi, pasukan Israel akan mengeluarkan undang-undang dengan nama Dehamisation seperti undang-undang Dehathification yang dikeluarkan oleh Powel Bremer, penguasan Irak pertama. Undang-undang baru ini akan disertai oleh berkas yang berisi foto pimpinan Hamas yang menjadi buron yang masih hidup. Kemudian apa setelah itu?

***

Alternatif sistem Irak menciptakan kekacauan dan chaos berdarah serta perang saudara. Kepala-kepala terlepas dari jasad yang tidak jelas identitasnya, pelarian massal, hancurnya pelayanan umum. Apakah kondisi dan situasi ini akan terulang di Jalur Gaza ketika dan setelah Israel menginvasi Jalur Gaza kembali?

Sudah pasti yang akan mengambil alih Jalur Gaza jika Israel berhasil menginvasi wilayah itu adalah Otoritas Palestina yang dipimpin oleh Mahmod Abbas yang selalu siap bertengger di punggung tank Israel. Persis seperti ketika Dr. Ahmad Jalabi dan Iyad Alawi beserta sejumlah kroninya bertengger di atas punggung tank-tank Amerika Serikat. Apakah ini akan mengangkat derajat Mahmod Abbas, kader Fatah dan pemimpinnya yang selama 40 tahun memperjuangkan Palestina dan memberikan ribuan syuhada dan puluuhan ribu lainnya menjadi tahanan atau korban luka?

Apakah jika Otoritas Palestina pimpinan Abbas menguasai Jalur Gaza akan mampu mengendalikan wilayah ini? Bagaimana mereka dinilai oleh warga Jalur Gaza yang selama ini memilih pimpinan mereka secara konstitusional? Apakah warga Jalur Gaza akan mengatakan kepada Otoritas Palestina sebagai pahlawan pembebasan seperti halnya warga Irak mengatakannya ketika pemimpinnya bertengger di punggung tank-tank Amerika?

Apakah Otoritas Palestina akan mengganti bendera Palestina dengan warna baru?

***

Dan masih banyak lagi pertanyaan di benak kita. Kita ingin jawaban sebab kita memahami wilayah kami sebagaimana kami pernah mempertahankan prinsip-prinsip nasional kita dan kita jadikan standar membaca masa depan dengan lebih jeli.

Barak berkali-kali mengancam menginvasi Jalur Gaza namun tidak menerapkannya karena takut kerugian. Apalagi berani membunuh pemimpin lapangan gerakan perlawanan yang merupakan tindakan murni asusila.

Kini Olmert mengancam akan membantai pimpinan politik Hamas seperti Ismael Haniya, Mahmod Zehar dan Said Sheyam dengan keyakinan itu akan membuat mereka menyerah dan menghentikan roket ke Sidrot dan mau gencatan senjata.

Pengalaman membuktikan, pembunuhan terhadap pimpinan faksi-faksi perlawanan Palestina tidak akan melemahkan semangat perlawanan bahkan semakin memperkokoh. Sehingga, hasilnya akan bertolak belakang dengan apa yang direncanakan. Misalnya, pembunuhan terhadap tiga pemimpin Fatah di masa lalu di Beirut oleh regu yang dipimpin Barak sendiri justru membuat gerakan ini makin kuat dan besar di kawasan dalam menghadapi penjajah Israel.

***

Pembunuhan terhadap Syaikh Ahmad Yasin dan Abdul Aziz Rantisi justru semakin menguatkan popularitas Hamas sehingga mereka mendulang suara dan kursi mayoritas di parlemen Palestina dalam sebuah perhelatan pemilu terbersih dalam sejarah Palestina.

Gerakan Hamas tidak pernah sembunyi dari serangan Israel di Jalur Gaza bahkan akan semakin tangguh.

Invasi ke Jalur Gaza sesuai ancaman Barak dengan dukungan Olmert dan Livni akan menciptakan perang besar di kawasan. Namun Israel tidak akan keluar dari kancah dengan sehat segar bugar. Kebekuan yang dialami oleh warga Jalur Gaza akibat blokade akan segera meledak.

Kami sering mendengar dari banyak warga Jalur Gaza yang diblokade yang mengatakan “Silahkan Israel datang dengan tank-tank mereka, kematian hanya sekali lebih baik dari pada mati karena lapar, ditekan dan kedinginan. Namun kematian akan amat menderita bagi Israel dalam kondisi apapun” [infopalestina]

Home | Tsaqofah

This entry was posted in Tsaqofah. Bookmark the permalink.