Belajar dari Partai Islam Turki

 

Turki merupakan suatu negeri yang memiliki kisah panjang tentang jatuh bangunnya peradaban. Di negeri ini pula Islam pernah sedemikian bercahaya gemerlap tatkala Kekhalifahan Islam Turki Utsmani masih berdiri kokoh. Dan seorang Abdullah ‘Azzam, pernah pula berlinang airmata kesedihan ketika menulis satu demi satu kalimat yang diuntainya menjadi sebuah buku berjudul ‘Pelita Yang Hilang’. turki-lady.jpg

Turki merupakan pelita Islam di gerbang Eropa. Sebab itu, musuh-musuh Allah senantiasa berupaya sekuat tenaga untuk memadamkan pelita tersebut.

Konspirasi Yahudi Internasional-lah, lewat seorang Yahudi dari Dumamah bernama Mustafa Kemal, yang meruntuhkan kekhalifahan Turki Ustmaniyah. Sejak itu, Mustafa Kemal menghancurkan semua simbol-simbol keIslaman dari negeri tersebut dan membunuh siapa saja yang berani menghalang-halanginya.

Setelah kekhalifahan hancur, Mustafa Kemal segera memberlakukan hokum sekularisme di negeri tersebut. Semua yang terkait dengan simbol-simbol keIslaman, walau sekecil apa pun, menjadi sesuatu yang dilarang. Barangsiapa yang masih mempergunakannya maka akan diseret ke penjara. Adzan pun yang di mana-mana mempergunakan bahasa Arab diganti dengan bahasa Turki. Allahu Akbar menjadi Allahu Buyuk. Jangan tanya soal hijab atau jilbab, semuanya dicampakkan jauh-jauh.

Sekularisme yang dilancarkan Mustafa Kemal didukung penuh oleh angkatan bersenjata Turki yang memang telah dikondisikan jauh-jauh hari oleh jaringan Yahudi Internasional. Sampai hari ini pun, militer Turki dikenal sebagai penjaga nilai-nilai sekularisme paling depan dan senantiasa siap untuk memberangus siapa pun yang ingin meruntuhkan nilai-nilai sekularisme Turki tersebut.

Sistem Sekuler Bernama Demokrasi

Sebelum berkuasanya Mustafa Kemal, Turki yang masih menganut sistem kekhalifahan menganut sistem Syuro, bukan demokrasi. Ada perbedaan sangat prinsipil di antara keduanya. Dalam sistem demokrasi, setiap orang memiliki satu suara, tidak perduli apakah dia itu seorang ulama yang bersih atau dia seorang koruptor, seorang pembunuh, seorang maling, seorang munafik, atau seorang penzina sekali pun. SIngkatnya, dalam demokrasi, suara ulama dan suara seorang penzina itu dianggap sama: satu suara.

Beda sekali dengan Syuro yang memang berasal dari Islam. Dalam sistem Syuro, orang-orang yang dikenal baik reputasinya, bersih, shalih, jauh dari hal-hal yang syubhat apalagi haram, memiliki keilmuan yang bagus, pemahaman yang lurus, dan semata-mata bekerja dan hidup demi menegakkan Islam, bukan ‘menunggangi’ Islam, maka orang-orang ini diangkat oleh khalifah dan duduk di dalam satu majelis yang disebut Majelis Syuro. Majelis yang berisi orang-orang yang bersih dan lurus, para ulama dalam arti sesungguhnya, dan menjadi wakil umat di dalam memutuskan segala apa yang diperlukan umat dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Walau demikian, rakyat kebanyakan bisa mengontrol Dewan Syuro ini dan memberi masukan-masukan yang sesuai dengan Islam. Jika ada pejabat negara yang sudah melakukan sesuatu hal yang keluar dari nilai-nilai Islam, maka umat berhak meminta Dewan Syuro agar mencopot orang tersebut dari jabatannya. Dan Dewan Syuro pun akan membahas hal tersebut bersama-sama dan memutuskan menurut kaidah Islam yang benar, bukan menurut kalkulasi politik praktis yang semata berdasar logika seorang manusia semata, apalagi berdasar kepentingan sesaat syahwat kekuasaan.

Di zaman Rasulullah, jabatan publik seperti hakim, gubernur, menteri, atau sebagainya merupakan amanah yang sangat berat pertanggungjawabannya di akherat kelak, sehingga banyak sahabat yang menolak ketika jabatan itu akan diserahkan kepadanya. Para sahabat dan para tabiin memahami dengan baik jika hakikat kemenangan dalam Islam diukur dari seberapa banyaknya umat yang telah menjalani hidup sesuai dengan syariat Islam. Makin banyak umat yang tebina, maka kondisi masyarakat, bangsa, dan negara dengan sendirinya juga akan semakin baik.

Hal ini beda dengan partai-partai sekuler yang mengukur hakikat kemenangannya semata dengan jumlah sudah berapa banyak posisi gubernur, menteri, dan jabatan publik lainnya berada di tangannya. Partai Islam tidak demikian karena lebih mengutamakan pembinaan terhadap manusianya, bukan posisi atau jabatannya yang sejatinya merupakan amanah yang sangat berat pertanggungjawabannya.

Para sahabat yang hidup berdampingan dengan Rasulullah saja banyak yang menolak jabatan, bahkan banyak yang menangis ketika dipaksa menerima jabatan tersebut. Beda sekali dengan zaman kini di mana banyak orang yang malah memburu jabatan, bahkan dengan menghalalkan segala cara.

Di masa kekuasaan Mustafa Kemal, banyak aktivis Islam dijebloskan ke dalam penjara bahkan sampai harus menemui kematian. Sebab itu, dakwah dilakukan dengan sangat rahasia dan tertutup. Dalam kondisi masyarakat demikian maka tumbuh suburlah tarekat-tarekat sufiisme yang merupakan sebuah eskapisme dari kondisi masyarakat yang kering ruhiyah. Sejarah mencatat jika sufiisme selalu berkembang dengan pesat di saat tatanan masyarakat dan kekuasaan bersikap represif terhadap dakwah Islam.

Pelajaran berharga diambil oleh para aktivis Islam Turki saat angkatan bersenjata negeri tersebut mengkudeta Perdana Menteri Adnan Menderes dari Partai Demokrat yang berkuasa di tahun 1960-an. Saat berkuasa, Menderes melakukan sejumlah upaya yang dinilai militer Turki bisa menghancurkan asas sekularisme Turki seperti membolehkan adan kembali dilakukan dalam bahasa Arab, merenovasi masjid yang rusak, membuka kembali fakultas ushuludin, dan menghidupkan kembali lembaga penghapal Al-Qur’an.

Oleh militer Turki, Menderes bersama Ketua Parlemen Bultuqan, serta Menteri Luar Negeri Fathin Zaurli dijatuhi hukuman mati.

Walau ditekan dan ditindas penguasa sekuler Turki yang didukung penuh oleh angkatan bersenjatanya, Islam tidaklah lantas punah begitu saja dari negeri ini. Dalam kondisi seperti ini, seperti juga di banyak negeri lainnya, di Turki bermunculan aliran-aliran sufiisme dan tarekat yang berfungsi sebagai eskapisme dari aktivitas religius yang tidak menemukan salurannya. Aliran sufi dan tarekat Nusairiyah dianggap kelompok yang paling banyak pengikutnya. Bahkan di beberapa pelosok Turki, banyak warganya masih mengenakan identitas keIslaman seperti jilbab bagi perempuan dewasanya.

Penindasan terhadap Islam dan pemaksaan sistem hidup sekularisme ternyata juga tidak mampu membunuh kekuatan aktivitas politik Islam. Mereka memainkan strategi amat sangat cantik guna mengembalikan negeri ini kepada nilai-nilai Islam seperti halnya saat masa kegemilangan kekhalifahan Turki Utsmaniyah sebelum Yahudi dari Dumamah, si Mustafa Kemal, yang didukung oleh kekuatan jaringan Zionisme Internasional mengacak-acak dan menghancurkannya.

Harakah Islam di Turki berusaha kuat dan juga tentunya secara diam-diam menyebarkan dakwahnya dari satu Muslim ke Muslim lainnya. Mereka menggunakan taktik penyebarluasan dakwah Islam dari bawah ke atas. Gerakan ini memiliki logika sederhana bahwa jika sudah banyak rakyat Tuki yang terbina dengan baik, maka dengan sendirinya cahaya Islam pun akan kembali menerangi negeri ini, tanpa perlu bekerjasama dengan kubu-kubu musuh Allah terkecuali dalam keadaan yang kuat. Karena kerjasama dengan pihak musuh hanya akan bisa efektif jika posisi kita sendiri kuat melebihi musuh kita. Bukan sebaliknya.

Proses mengembalikan nilai-nilai Islam di Turki juga dilakukan dengan intensif di sektor-sektor strategis yang berpengaruh kuat terhadap pusat kekuasaan dan pusat kebijakan. Hal ini dilakukan dengan sangat professional dan tidak terburu-buru. Mereka tidak akan pernah memasukkan orangnya ke dalam pusat-pusat pemerintahan sebelum ‘infrastrukturnya’ tercipta dengan baik.

Profesionalisme dalam dakwah benar-benar diterapkan. Bagi aktivis Islam yang bergerak di bidang perekonomian, para pengusaha, dibiarkan tumbuh dengan cepat dan besar. Para politikus Islam tidak merongrong para pengusaha dan professional Muslim dengan alasan-alasan aktivitas politik butuh dana untuk ini dan itu. Para pengusaha dan professional Muslim tidak dianggap sebagai ‘dompet satu-satunya’ bagi gerakan politik Islam. Aktivitas politik Islam di Turki dilakukan secara sabar dan bertahap, bukan meloncati marhalah yang ada.

Mereka dengan serius memperkuat eksistensi dirinya terlebih dahulu, bersungguh-sungguh melakukan pembinaan terhadap obyek dakwah, mengutamakan kualitas ketimbang kuantitas. Yang tercipta tiap hari adalah kemunculan kader yang terus tumbuh dengan pesat, bukan orang-orang yang baru satu dua hari mengenal Islam lantas dikenakan kewajiban untuk juga merekrtut orang lainnya untuk mendukung kekuatan partai Islam. Mereka sadar, jika yang terakhir ini dilakukan maka ujung-ujungnya partai Islam akan kehilangan identitasnya sebagai partai dakwah, karena sudah tidak ada lagi perbedaan dengan partai-partai sekuler yang juga mengutamakan kuantitas ketimbang kualitas. Umat hanya dijadikan komoditas politik (baca: dimanfaatkan sementara waktu demi tujuan-tujuan jangka pendek), dan setelah itu ditinggalkan atau dilupakan. Ini adalah kebiasaan partai politik sekuler, dan sama sekali tidak boleh dilakukan oleh sebuah partai dakwah.

Beberapa gerakan politik Islam di Turki yang menerapkan cara ini antara lain gerakan An Nur, Refah, Fadhilah, Partai Keadilan dan Pembangunan, dan sebagainya. Kader-kader mereka antara lain adalah Necmetin Erbakan yang memimpin Partai Refah, sampai dengan Tayyip Erdogan, murid dari Erbakan, yang berjuang lewat Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP). Mereka tidak secara terang-terangan memusuhi pilar-pilar sekularisme, namun mereka juga tidak larut dalam aras utama politik sekularisme Turki, apalagi menggandeng kubu-kubu sekularis menjadi mitranya jika secara internal sendiri mereka lemah.

Selain kelompok-kelompok politik Islam di atas, ternyata di Turki juga menyimpan gerakan-gerakan Islam radikal yang bersikeras politik Islam harus dimunculkan dari atas ke bawah. Mereka ini diwakili oleh gerakan IBDA-C dan Hizbullah Turki. Mereka dengan tegas menyatakan akan mendirikan negara Islam Turki dengan segala cara, seperti revolusi dan gerakan-gerakan lainnya yang terinspirasi oleh revolusi Islam Iran yang dimotori Khomeini di tahun 1979.

Sejarah politik di Turki telah menunjukkan kepada kita bahwa rakyat akhirnya lebih memilih kekuatan politik Islam yang bersikap non-konfrontatif namun tetap lekat dengan nilai-nilai Islamnya. Racep Thayib Erdogan dengan AKP-nya yang simpatik berhasil mengantungi suara terbanyak di parlemen. Sejumlah langkah yang membuat kekuatan politik Islam ini bisa diterima oleh mayoritas rakyat Turki adalah sebagai berikut:

  • Pertama, dalam membangun kekuatan ‘Islam politiknya’, mereka terlebih dahulu melakukan pembinaan dan kaderisasi yang sungguh-sungguh. Mereka mengutamakan kualitas ketimbang kuantitas dan membuang sikap tergesa-gesa apalagi ‘pengkarbitan’ kader. Dakwah ini mengalami perluasan yang luar biasa karena para kadernya memperlihatkan diri sebagai seorang Muslim yang baik, yang cerdas, sholih, profesional, namun tetap dekat dengan rakyat dengan menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan dan memiliki empati atau kepedulian sosial yang sangat tinggi, tidak sebatas jargon politis atau seruan dari atas mimbar-mimbar.

Mereka memperlihatkan satu kata dengan perbuatan kepada rakyat Turki. Mereka mengatakan hidup sederhana, ya mereka melakukan hal itu dalam kehidupan kesehariannya. Mereka mengatakan sebagai kelompok yang memiliki kepedulian sosial tinggi, ya mereka banyak mendirikan lembaga-lembaga sosial yang benar-benar bermanfaat pada rakyat banyak dalam jangka waktu yang lama dan bukan sebatas aksi-aksi politis yang bersifat sementara. Hal inilah yang menumbuhkan simpati rakyat kepada mereka, karena rakyat melihat mereka benar-benar beda, tidak sama dengan para politikus dari kubu sekularis.

  • Kedua, mereka mengutamakan profesionalitas dakwah. Mereka mempersilakan para kadernya memilih jalan dakwah di dunianya masing-masing. Yang politikus ya di jalan politik, yang pengusaha ya di bidang ekonomi, yang memiliki keahlian di bidang seni budaya ya di bidang tersebut. Antara satu bidang dengan bidang lainnya saling bekerjasama, namun tidak pernah mesin politik Islam mereka ‘menodong’ kader mereka yang bergerak di bidang ekonomi untuk membiayai pergerakan mereka dengan suatu kewajiban yang memberatkan si kader pengusaha tersebut. Mesin politik mereka digerakkan oleh keikhlasan dan asas profesionalitas, bukan dengan todong sana-sini apalagi bekerjasama dengan kubu-kubu lawan yang lebih kuat yang dalam ideologi tidak sejalan dengan dakwah Islam.

Sikap todong sana-sini untuk bisa menggerakkan mesin politik sesungguhnya menunjukkan jika mesin politik tersebut belum pada waktunya untuk bisa berjalan dan menunjukkan sikap terburu-buru yang sesungguhnya tidak perlu dilakukan. Dakwah Islam harus dilakukan secara bertahap, dari marhalah ke marhalah, bukan dengan main lompat tali.

Hal-hal lainnya sungguh banyak. Namun secara garis besar bisa dikatakan, kekuatan politik Islam di Turki ini telah menunjukkan pembelajaran sangat berarti bagi saudara-saudaranya di seluruh dunia jika politik Islam memang harus dilakukan secara benar dan bersungguh-sungguh. Mereka memperjuangkan nilai-nilai Islam, tidak saja di mulut namun menunjukkannya kepada rakyat Turki bahwa mereka dan keluarga-keluarga mereka memang hidup meneladani RAsulullah SAW dan para sahabat serta para tabiin.

Kemenangan partai Islam di Turki merupakan kemenangan sebuah keteladanan yang telah berjalan lama dan panjang, bukan kemenangan semu yang hanya dicapai dengan memanfaatkan sentimen keIslaman rakyat Turki yang memang hampir seratus persen memeluk agama Islam. Keteladanan para qiyadah bersama dengan keluarganya dalam menjalani hidup di tengah rakyat Turki, di tengah para tetangganya, adalah kata kuncinya, bukan yang lain.
(rizky ridyasmara/eramuslim)

This entry was posted in Tsaqofah. Bookmark the permalink.