Jama’ah Manusia

Kita tarbiyah dalam lingkungan manusia. Sebagai sebuah konsekuensi dari struktur sosial masyarakat, diferensiasi sosial akan senantiasa ada. Atau dengan kata lain, diferensiasi sosial adalah keniscayaan bagi sebuah struktur sosial masyarakat. Dengan diferensiasi sosial masing-masing elemen, kelompok atau komponen masyarakat memiliki status dan perannya yang khas. Misalnya, status pengurus sebuah organisasi akan menciptakan peran yang berbeda dengan orang lain yang berstatus sebagai anggota organisasi. Demikian pula halnya dengan diferensiasi sosial dalam keluarga, perusahaan, kantor, instansi, dan lain-lainnya. Pendek kata, untuk setiap status sosial tersedia pula peran sosial yang khas atau spesifik.

Banyak pihak menuding diferensiasi sosial sebagai biang konflik. Diferensiasi sosial dipandang sebagai lawan kata dari ketertiban sosial (social order). Keragaman struktur dan strata dalam masyarakat dituding sebagai pemicu konflik yang terjadi di masyarakat. Paham materialisme yang demikian populer saat ini mengajarkan apa yang disebut dengan perspektif sosial konflik. Pandangan ini mencoba menyakinkan kita bahwa setiap individu atau kelompok memiliki tujuan yang berbeda-beda. Oleh karenanya, individu atau kelompok dalam masyarakat sulit untuk melakukan konsensus. Masyarakat diyakini lebih mudah melakukan konflik daripada harus melakukan kompromi.

Doktrin lainnya rnengantarkan masyarakat materialis pada keyakinan bahwa sifat manusia pada dasarnya rakus dan tidak terpuaskan. Sifat dasar ini menyebabkan setiap komunitas akan dipenuhi dengan konflik dan miskin konsensus. Marx bahkan meyakini bahwa satu-satunya wajah dari masyarakat adalah pola relasi konflik. Ajaran Marx yang berangkat dari kemarahan inilah yang kerap menimbulkan konflik baik verbal, fisik, bahkan pertumpahan darah.

Ajaran Marx mewarnai dengan sangat signifikan dinamika politik kontemporer di berbagai belahan dunia. Perbedaan kerap digunakan sebagai amunisi yang efektif dalam perjuangan. Aktivitas yang dimotivasi oleh kemarahan terhadap perbedaan ini oleh beberapa pihak disebut dengan istilah out of anger. Secara bahasa, anger adalah feeling that makes people want to quarrel or fight. Anger adalah kata umum untuk perasaan tidak senang dan keinginan untuk melawan. Out of anger adalah semangat yang biasa digunakan oleh gerakan pemikiran kiri radikal dalam membangun dan membesarkan pemikiran radikalnya. Kepeduliannya terhadap kaum lemah didasarkan pada rasa arnarah kepada segala sesuatu yang berbau borjuis, penguasa, kelas atas, dan sosok patriarkat. Mereka yakin bahwa setiap penguasa dan orang kaya atau sosok patriakat memiliki moralitas yang rendah dan layak untuk dimusuhi. Suasana konflik – baik verbal maupun fisik – merupakan warna dominan dalam gerakan radikal ini. Oleh karena itu, selalu ada yang ditempatkan sebagai pihak yang harus selalu dilawan dan oleh karenanya memberi peluang terjadi pertumpahan darah.

Keragaman Kita

Institusi dakwah kita ini secara normatif adalah wadah untuk ketenangan dan kebahagiaan. Ia adalah tempat di mana kita berkumpul dengan orang pandai, ahli ibadah, ulama, orang saleh, dan orang-orang baik. Tetapi, ditengah kesamaan tersebut, bukan berarti tidak ada perbedaan. Kita tidak berasal dari daerah yang sama. Kita memiliki latar belakang sejarah yang berbeda. Kita juga memiliki latar belakang organisasi yang beragam. Kita dibesarkan oleh orang tua yang berbeda dengan segenap ciri khas dan perbedaan fokus pendidikannya. Bukankah tidak semua dari kita telah menikah? Ada beberapa yang belum menikah. Bukankah tidak semua dari kita telah memiliki anak? Sebagian di antara kita belum mendapatkannya. Jumlah dan problem anak-anak kita juga berbeda. Bukankah tidak semua kita laki-laki atau perempuan? Bukankah tidak semua kita adalah murobbi? Bukankah tidak semua kita public figure?

Justru dengan perbedaan-perbedaan yang ada itulah kita dapat mendefinisikan peran dan fungsi yang berbeda. Kita dapat mendefinisikan peran ikhwan yang memiliki perbedaan dengan akhawat. Di antara akhawat, kita tidak memberikan peran dan fungsi yang sama, misalnya dengan membedakan antara akhawat dan ummahat. Ada perbedaan peran yang kita sadari antara murabbi dan mutarabbinya, ustadz dan muridnya, panglima dan pasukannya, senior dan juniornva, public figure dengan penggemarnya, dan lain sebagainya. Perbedaan-perbedaan tersebut semakin kaya dengan perbedaan-perbedaan yang timbul belakangan semisal perbedaan taraf ekonomi, intelektua1, kharisma, pengaruh, maknawi, jumlah liqa’, jabatan, dan lain sebagainya.

Di tengah perbedaan, sangat mungkin timbul berbagai pertanyaan. Seorang kader yang disiplin potensial akan mempertanyakan kader yang sering terlambat. Ikhwan dan akhawat yang memiliki segudang aktivitas akan potensial untuk ‘memprotes’ saudaranya yang dianggap masih memiliki banyak waktu luang. Sang pemerhati keluarga mungkin mengkritik kader yanq dipandangnya sembrono dalam berinteraksi dengan keluarganya. Seorang yang teliti dalam menjaga kehalalan rezekinya akan terlihat rewel di mata kader yang tidak seteliti dia. Seorang yang menyukai mukhayyam, rihlah, riyadah, atau demo bisa saja mengkritisi ikhwahnya yang cenderung nge-ruhi atau ‘ngustadz’. Seorang yang terlatih dalam seminar, lokakarya, atau diskusi, cenderung ‘memprovokasi’ kader yang lain untuk berlatih diskusi. Seorang kader potensial mempertanyakan sekian banyak hal dari kader yang lain, karena beberapa perbedaan di antara keduanya.

Maka inilah realitas kita. Seorang ikhwan sangat disiplin ketika liqa’, meski ia bukan ‘pemenang’ dalam berhubungan baik dengan para tetangganya. Seseorang menonjol dalam ‘prestasi’ dakwahnya meski ia mungkin bukan sosok yang baik bagi keluarganya. Seorang kader menonjol dalam ma’isyah-nya di tengah kelemahannnya dalam mengisi liqa’, ta’lim, atau halaqah. Seorang kader dipandang sebagai pakar keluarga meski ia kerap dinilai mengabaikan tugas-tugas jama’i-nya. Seorang ikhiwan dan juga akhawat menonjol dibidang akademiknya bersamaan dengan lemahnya interaksi dengan saudaranya. Seorang dihormati istri dan disayang anak-anak-nya meski beberapa mutarobbi ingin berpindah darinva. Seorang akhawat dan juga ikhwan ahli dalam merencana dan memproyeksikan, tapi kerap mengecewak.an dalam implementasinya. Atau sebaliknya. Mungkin saja, ada keluarga kader yang rumahnya terawat rapi dan bersih, dan sebersih itu pula jumlah binaannva (alias tidak memiliki binaan). Seorang ummahat bisa saja menyebabkan anak-anaknya kerasan, Sementara tidak demikian halnya dengan mutarabbinya. Seorang kader ‘berapi-api’ dalam membahas politik atau isu kontemporer setelah beberapa saat yang lalu berkeringat karena harus setor hafalan. Ada yang lebih eksplosif meski tidak lebih konsisten dan ada yang lebih konsisten meski adem ayem saja, serta masih banyak variasi lainnya.

Memang terlampau kasar untuk memperingatkan akan adanya out of anger dalam barisan ini. Terlampau mengada-ada dan dibuat-buat untuk menulis out of anger dalam jamaah ini. Tetapi, untuk mencermati motivasi aktivitas kita masing-masing tentu tidak ada salahnya. Karena, melihat ketamakan orang-orang yang jauh dari dakwah adalah suatu yang sederhana. Tetapi, memang agak sulit melihat ketamakan dari aktivis dakwah. Memang bukan hal yang rumit untuk melihat ego dari pejabat-pejabat publik yang jauh dari barisan dakwah. Tetapi, bukan hal yang sederhana dalam melihat peran ego dari seorang aktivis dakwah. Melihat kepentingan dunia dari seorang pengusaha kikir bukan hal yang rumit. Tetapi, melihat kepentingan tersembunyi dari seorang aktivis dakwah tentu bukan hal yang sederhana. Aktivitas penguasa jahat atau pengusaha kikir terlampau kasat mata bagi seorang aktivis dakwah. Klaim atau pernyataan mereka terlampau menggelikan bagi aktivis dakwah. Kata-kata dan perbuatan mereka insya Allah hanya akan menipu orang awam dan mereka yang jauh dari dakwah. Tetapi, bagaimana mengkritisi saudara sendiri?

Pilihan kita bukanlah meneruskan suasana kritis atau menghentikannya. Pilihan kita adalah dari mana kita memulai sikap kritis ini. Dari kecurigaan, ketersinggungan, kemarahan, atau dari kasih sayang, mahabah, atau kepedulian? memulai sikap kritis dari kemarahan, kecurigaan atau ketersinggungan akan berbeda sama sekali dengan memberangkatkan sikap kritis dari mahabah dan kepedulian.

Menurut Al-Ghazali, kita memang tidak mungkin menghindari kemarahan. Kemarahan tidak secara normatif dianggap sebagai penyakit, demikian tulis Said Hawwa. Kemarahan yang penyakit – lanjutnya – adalah kemarahan yang zalim dan cepat marah serta lambat reda. Kemarahan yang baik dipicu oleh hal-hal yang baik, sedangkan kemarahan yang zalim dipicu arogansi, ‘ujub, senda gurau, kesia-siaan, pelecehan, pencibiran, perdebatan, pertengkaran, penghianatan, dan ambisi dunia.

Satu kemarahan saja dari jenis zalim ini cukup untuk meluluhlantakkan hubungan antartetangga, suami istri, persaudaraan, dan persahabatan. Bahkan, satu kemarahan jenis ini sudah sangat memadai untuk menimbulkan keretakan barisan dan memperlambat pertumbuhan gerak institusi dakwah ini.

Kita tidak dapat mencintai kader dan menerima nasihat darinya selama dihati kita masih ada rasa arogan, congkak, atau sombong. Bahkan, kita menjadi mudah untuk menggunjing dan melecehkannva – di belakangnya atau di hadapan – selarma di hati kita bersemayam keangkuhan. Padahal, amarah menghasilkan amarah, kekacauan menimbulkan kekacauan, dan perang menciptakan perang. Sebaliknya, cinta melahirkan cinta.

Semoga Allah menjaga kita semua, karena di tangan dan hati kita sebagian persoalan umat terbebankan. Mari kita hargai ikhwah karena keunggulannya, bukan menilai ikhwah dari kelemahannya. Karena, itulah tanda-tanda bahwa kita telah tarbiyah.

Wallahu a’lam.

This entry was posted in Tazkiyatun Nafs. Bookmark the permalink.