Nasib Al-Quds: Yang Berbahaya Bukan Hanya Galian Bawah Tanah

Apa yang terjadi di Al-Quds ?, apakah mungkin kita mengenyampingkan kebenaran di tengah awan hitam kedustaan dan kebohongan Israel yang kadang dipakai sebagai pakaian agama dan sejarah yang perlu penelitian lebih lanjut.

Di lain keadaan mereka menggunakan baju darurat atas nama kemanusiaan untuk menjawab perkembangan alami permukiman illegal. Masalahnya, bukan hanya penggalian yang dilakukan Israel dalam menodai Masjid Al-Aqsha untuk tujuan yahudisasi ataupun perubahan demografi Al-Aqsha setelah hilang nantinya, tetapi masalahnya Al-Quds sebagai wilayah jajahan. Dan kenyataanya, masalah al-Quds ini makin hari makin menunjukan bahaya yang luar biasa, berupa penerapan realitas baru yang menunjukan kekuatan Zionis dalam membela kepentinganya di wilayah tersebut.

Yahudisasi secara menyeluruh, baik dari sisi demografis ataupun geografis. Legalitas ataupun sarana dan prasarana. Siapapun yang mengamati Al-Quds pasti akan menemukan bagaimana Israel sangat bernapsu untuk menguasainya. Tidak ada satu celah ataupun cara untuk menguasainya pasti sudah mereka lakukan. Misalnya dengan merampas tanah, menghancurkan bangunan, mendirikan permukiman baru, menghentikan pemberian izin pembangunan bagi warga Arab, melakukan tekanan dan intimidasi agar warga Arab menyingkir dari tanah miliknya. Baik menekan secara fisik maupun mental.

Blockade, peningkatan pajak, penutupan sejumlah lembaga social hingga pencabutan kartu identitas. Sebelum kita sibuk membicarakan masalah galian Israel di sekitar Masjid Al-Aqsha, mungkin sangat penting kita bahas tentang masalah lain yang lebih berbahaya dari masalah penggalian. Saya ingin katakan terus terang, jika kita menolak atau memprotes penggalian, maka tkita tidak bisa menutup mata atas bahaya terbesar mengancam Al-Quds, berupa yahudisasi secara keseluruhan serta mengeluarkan masalah Al-Quds sama sekali dari perombakan solusi akhir bagi Palestina.

Kalau kita kaji rencana Zionis untuk menguasai Al-Aqsha, kita akan menemukan semua rencana Zionis telah dilaksanakan secara bertahap, sejak pembentukan gerakan Zionis internasional. Pada tahun 1948 misalnya, Israel telah berhasil menguasai bagian barat Al-Quds sebagai bagian mendasar dari pembentukan Negara yahudi. Kemudian pada tahun 1967, Israel melakukan ekspansi untuk mencapai targtenya, ketika mereka berhasil menguasai Al-Quds timur yang dulu dikuasai Yordania sejak 1948. Maka terbukalah kesempatan bagi Israel untuk medeklarasikan niatnya menjadikan Al-Quds sebagai ibu kota Abadi. Dan itu sudah dilaksanakan.

10 tahun terakhir dimana proses perdamaian mengalami kemandekan adalah masa dimana Israel menggiatkan yahudisasinya. Israel seolah berpacu dengan waktu untuk meyahudikan Al-Quds. Mungkin sebaiknya kita kembali ke belakang dan mencoba berfikir tentang akibat dari perang Arab tahun 1967, dimana Israel sempurna merealisasikan mimpinya mempunyai Negara. Pada tahun 1948 mereka mengusir bangsa Arab sebagaimana pada tahun 1967 dan yang menjadi korban utamanya adalah warga Palestina yang tinggal di jajahan tahun 48 dan 67. Bukan hanya pengusiran dan pengrusakan sekaligus penjebelan sejumlah rumah dan tanah milik warga tetapi juga denda dan pajak yang sangat tinggi terhadap warga. Warga arab dikenakan 10 macam pajak yang dikenakan secara paksa, untuk membiayai perluasan permukiman yahudi.

Kita lihat masalah ini lebih besar daripada penggalian dan lebih berbahaya dari apa yang diterikan sejumlah Negara Arab atupun Islam.

infopalestina.com

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.