antara politik dan phobia

Ada fenomena klasik yang masih sering muncul di masyarakat kita hingga kini. Fenomena itu adalah phobia politik akibat trauma masa lalu. Bukan hanya kalangan masyarakat biasa, ia juga menghinggapi sebagian kalangan mahasiswa. Bila disebut politik atau partai, imej yang muncul pasti politik itu kotor (politic is dirty), hanya mengejar kursi, gudang skandal korupsi, menghalalkan segala aksi, dan seterusnya. Karena itu, semua aktifitas beraroma politik harus dijauhi.

Paradigma seperti ini sudah saatnya dihilangkan. Karena disamping kondisi riil masyarakat kita telah berubah, kita pun dituntut untuk bisa tampil sebagai pencetus sekaligus pengawal percaturan politik bangsa, agar menjadi sehat, bersih, dan islami.

Politik tidak bisa dipisahkan dari Islam. Nilai-nilai ajaran Islam sangat universal, mencakup seluruh aspek ilmu. Ia mengatur semua sistem kehidupan manusia. Tak terkecuali sistem tata negara; segala yang menyangkut perundang-undangan, ekonomi, keamanan, pemilihan kepala negara/daerah, dan lain sebagainya. Karena itu, tidak heran kita jumpai dalam literatur Islam, ada satu bidang ilmu yang terus diajarkan hingga saat ini. Ilmu itu diberi nama Siyâsah Syar’iyah. Maka, memisahkan politik dari Islam atau mengatakan politik tidak ada landasan syar’inya, sama sekali tidak benar! Itu sama dengan mengambil sebagian ajaran Islam, dan meninggalkan sebagian yang lain. (Lihat QS. Al-Baqarah:85).

Untuk merubah sebuah paradigma secara drastis, tentu tidak mudah. Sebagaimana perubahan dramatis suatu tatanan yang bobrok tidak bisa diharap datang dari luar. Maka, partisipasi langsung dalam berpolitik secara islami, serta menjadikan “partai” sebagai wacana pendidikan politik yang bersih dan elegan, sudah semestinya dibudayakan. Sikap pro-aktif seperti ini harus terus didukung, dengan tetap menjaga subtansi atau platform yang ada.

Secara umum, ada tiga faktor yang menyebabkan orang phobia terhadap politik atau partai :

1.  Trauma masa lalu

Pergulatan politik di era-era sebelumnya sangat tidak sehat. Para politikus tidak malu-malu mengumbar janji kosong, memfitnah lawan politik, mengancam fisik, money politic, bahkan mengerahkan massa untuk mengintimidasi kelompok lain.

2.  Tidak ada sosok politikus sejati yang bisa dijadikan tauladan

Ketika mendapat kesempatan berkuasa, ibarat kacang lupa akan kulitnya. Tidak lagi membaur dengan masyarakat, mendengar keluh kesah mereka, apalagi turun tangan menolong kaum papa dan orang-orang yang dizhalimi haknya. Disaat menang dalam pertarungan, langsung gurur, sombong dan lupa diri. Atau ketika kalah bertarung, tidak mau mengakui kekalahan, apalagi memberi ucapan selamat kepada rival yang menang.

3.   Menerima doktrin yang salah

Untuk poin ini, kalangan remaja sering menjadi korban, termasuk pelajar atau sebagian mahasiswa yang masih labil dan belum memiliki karakter yang konstan. Karena doktrin itu keluar dari mulut orang yang disegani, entah orang tua, kyai, guru, atau senior, maka pesan itu dianggap sakral. Lebih-lebih bila dikaitkan dengan studi. “You tidak usah ikut-ikutan politik atau partai. Tugas utama you adalah belajar, titik!!” Atau dengan warning yang lebih nyelekit, “Hati-hati kalo ikut partai itu, ente hanya akan jadi sapi perahan atau kuda tunggangan!!” Dan lain sebagainya.

Selain tiga faktor tersebut, ada juga tipikal orang yang tidak ingin menyentuh labirin politik bukan karena phobi, tapi karena kepentingan dan ambisinya tidak terakomodasi.

Faktor-faktor di atas secara tidak langsung telah membentuk kepribadian menjadi pasif, apatis, dan tidak mau tahu apa yang terjadi pada saudara dan bangsanya. Padahal konstelasi politik Indonesia saat ini telah berubah. Artinya, suasana perpolitikan tanah air telah mengarah ke situasi yang lebih kondusif, demokratis, dan profesional. Kondisi ini harus didukung dengan partisipasi aktif. Kalau tidak, dikhawatirkan bakal tampil kembali penguasa diktator berwajah humanis, para thogut yang bersembunyi dibalik peci nasional untuk memperkaya diri, dan para penjilat bermental hipokrit yang tidak sungkan-sungkan menjual aset negara, atau menggadaikan harga diri bangsa.

Bahkan kekhawatiran yang paling besar adalah kembalinya episode marjinalisasi syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dosa terbesar yang pernah dilakukan para tirani sebelumnya adalah mengebiri nilai-nilai dasar Islam dari kehidupan masyarakat muslim. Hingga tidak sedikit melahirkan leader-leader berjiwa munafik. Dari sinilah sumber segala krisis beruntun yang melanda Indonesia, dan menjadikannya negara “ironis”. Ironis, karena kekayaan alamnya melimpah ruah, tapi justru masuk kelompok negara termiskin di dunia. Mayoritas mutlak berpenduduk muslim, tapi enggan menyatakan syariat Islam sebagai UUD-nya. Harkat dan martabat bangsa menjadi rendah di mata dunia, karena pengiriman TKW terus berlanjut, plus menempati sepuluh besar negara terkorup.

Belum lagi usaha konspirasi global yang terus mengeliminir potensi dunia Islam, agar tetap di peringkat Dunia Ketiga atau Negara Baru Berkembang, berada jauh di bawah negara-negara maju. Bahkan mereka tidak segan-segan memposisikan dunia Islam dan kaum muslimin sebagai musuh besar yang harus diberangus, dengan mengusung slogan basmi terorisme, fundamentalisme, anarkisme, dan lain sebagainya.

Mencermati realita ini, ditambah dengan kenyataan empirik yang menumpuk di hadapan kita, maka dirasa wajib membentuk komunitas muslim yang bersatu padu, solid bergerak, cerdik membaca situasi, profesional dalam manajemen, ahli di bidangnya, serta unggul leadership. Kehadiran sebuah jamaah muslimah yang diartikulasikan dalam bentuk partisipasi politik dengan membentuk “partai” adalah mutlak. Yaitu partai Islam dengan visi, misi, dan platform yang jelas. Mengikat seluruh elemen struktur dan personil partai, sehingga semuanya mengacu dan disiplin terhadap kebijakan dasarnya.

Kehadiran Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang fenomenal bisa menjadi solusi bagi seluruh generasi muda Indonesia. Termasuk orang yang masih phobia politik tadi. PKS berhasil menghadirkan tatanan yang betul-betul baru. Partai ini telah membuktikan pada masyarakat luas, bahwa permainan politik bisa dikemas menjadi sehat, bermoral, dan islami, asalkan para aktor politiknya komitmen dengan nilai-nilai dasar Islam, dan disiplin pada platform partai. Padahal, partai dalam jamaah ini hanya dipersepsikan sebagai salah satu sayap dakwah, bukan tujuan. Atau salah satu gerbong dari sekian banyak gerbong yang mengarah pada tujuan besar dakwah.

Tidak heran, jika dari partai ini muncul sosok seperti DR. Hidayat Nur Wahid, tokoh nasional yang patut dijadikan tauladan oleh para pemimpin Indonesia. Demikian pula sosok-sosok luar biasa lainnya yang tergabung dalam kafilah dakwah ini. Buku karya Helvy Tiana Rosa, “Bukan di Negeri Dongeng, Kisah Nyata Para Pejuang Keadilan,” sangat mengharukan. Di tengah lautan kebobrokan moral pemimpin dan wakil rakyat, ternyata masih ada segelintir pejuang keadilan. Mereka tegar mempertahankan moral Islamnya, walau mendapatkan cemoohan, intimidasi, bahkan ancaman pembunuhan.

Karena itu, bukan masanya lagi kita alergi berpolitik. Doktrin buta untuk menjauhi politik, sama sekali tidak menguntungkan umat Islam. Intensifikasi pendidikan politik sangat perlu, terutama bagi pelajar dan mahasiswa, agar mereka dapat mengapresiasikan ilmunya dengan kondisi riil di lapangan. Komitmen “Bela Islam” akan lebih berhasil bila dilakukan secara kolektif. Bersama-sama membumikan Islam, dengan tetap menyesuaikan tingkat kapabilitas dan progresifitasnya di masa mendatang.

Ada satu motto filosofis yang digunakan PKS dalam berinteraksi dengan siapapun. Bisa dijadikan keyword menjawab tuduhan eksklusifisme dan klaim sok suci.

“Jika Anda yakin, dukunglah kami. Jika Anda simpati, doakan kami. Jika Anda ragu, pelajari kami. Dan jika Anda tidak setuju, kami tetap akan memperjuangkan hak Anda.”

Ditulis Oleh Muzakkir Muhsin Thaha
PIP-PKS Mesir

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.