Belajar dari Pilkada DKI

Saudaraku..

Ada seorang sahabat yang hatinya dibanjiri kesedihan setelah melihat hasil PILKADA DKI. Ia tak sanggup membendung tetesan air mata saat pasangan calon no: 4 hanya berada di urutan ketiga.Demikianlah, manusia hanya mampu melukis harapan dan memahat cita-cita setinggi ia mampu, tapi ujung segala rencana adalah garis ketetapan-Nya. Walau terkadang yang hadir di alam realita tak seperti harapan kita.

Dalam keondisi seperti itu, sebagai mukmin hendaknya kita kembalikan semua urusan kepada Allah swt. Ada salah seorang ustadz yang mengingatkan kita untuk mengucapkan suatu perkataan, “Qadarallahu wamaa sya’a fa’al” itulah takdir-Nya. Dia berbuat apa yang dikehendaki-Nya.

Saudaraku
Kemenangan tidak harus tampak secara zahir, tapi kemenangan sejati seperti disebutkan oleh Imam Ahmad adalah ‘keistiqamahan hati dalam memegang prinsip yang benar’, walau secara kasat kita kalah. Namun jerih payah dan perjuangan kita tak pernah sia-sia. Kita pasti akan memetik hasilnya suatu saat nanti.

Hikmah yang bisa kita petik dari PILKADA DKI:
Pertama; itulah potret masyarakat kita, yang belum siap dipimpin oleh orang yang shalih, cerdas dan terdidik. Padahal kesejahteraan dan kemakmuran sebuah negeri sangat ditentukan oleh siapa yang memimpinnya. Umar bin Abdul Azis sanggup merubah warna negeri, menjadi warna pelangi, hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga tahun. Masyarakat aman, sentausa, damai dan sejahtera. Bahkan tak seorangpun dari rakyatnya yang mau menerima zakat. Karena setiap orang menganggap dirinya mampu, tak layak mendapatkan jatah zakat dari Negara.

Kedua; kita belajar ikhlas dan ridha menerima takdir-Nya. Sedih yang menguasai hati, putus asa berlebihan, merasa perjuangan kita sia-sia adalah tanda kita putus asa dari rahmat Allah. Padahal hal itu merupakan bibit dari kekufuran, lihat QS; Yusuf: 87.

Ketiga; Mungkin pula usaha dan kontribusi kita dan tim sukses serta simpatisan belum maksimal. Dan bisa jadi perlu ditingkatkan lagi keikhlasan dan ketulusan kita dalam berjuang.

Keempat; kekuatan finansial dalam perjuangan juga tidak bisa kita nafikan. Dalam perang Tabuk, Nabi saw mengumumkan kepada para sahabat untuk berkontribusi harta. Yang pada peperangan sebelumnya tidak beliau lakukan. Artinya semakin jauh jarak yang ditempuh dan semakin kuat musuh yang akan dihadapi, maka kita semakin memerlukan bekal dan persiapan yang memadai.

Kelima; jika kita sabar menerima ketetapan-Nya dan berhusnuzhan terhadap keputusan-Nya, tentu pahala yang besar telah Allah siapkan untuk kita.

Dan yang terpenting dan harus terpatri di hati kita, bahwa kemenangan itu adalah murni hadiah dari Allah swt. Dan bukan usaha dan ikhtiyar dari manusia semata.

Lanjutkan perjuangan untuk memberi warna kepada umat dan berbagi kebaikan serta menjaga semangat agar tak redup ditelan musim. Wallahu a’lam bishawab.

Riyadh, Rabu; 11 Juli 2012 M

Ustadz Ahmad Mustaqim “PKS Arab Saudi”

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.