Asep, Si penjual Gorengan

asepGraha Sanusi Hardjawinata berdiri dengan megah nan kokoh. Gedung itu memiliki tempat spesial dalam hati dan catatan sejarah  hidup saya. Di sinilah pertama kali saya diterima secara resmi

sebagai mahasiswa Universitas Padjadjaran. Setelah mengalami berlaksa suka duka sebagai mahasiswa, di tempat ini pulalah saya diwisuda sebagai seorang sarjana.

Hari ini saya kembali memasuki gedung tersebut dalam konteks yang berbeda. Momentum ini menjadi sangat istimewa karena saya mendapat kehormatan diminta memberikan pengantar pembekalan kepada 1500 Tenaga Penggerak Desa (TPD) BKKBN, Jawa Barat. Selain itu, saya berkesempatan memandu acara inti berupa talkshow,  dengan pembicara di antaranya, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Netty Prasetiyani.

Hari itu bertambah istimewa karena menjelang pertemuan tersebut, Pak Ahmad Heryawan baru saja mendapatkan penghargaan  Satyalencana  Wira  Karya  bidang  Kependudukan dan Keluarga Berancana dari Pemerintah Pusat. Penghargaan itu merupakan penghargaan ke sekian puluh yang diterimanya atas prestasi dan karya nyatanya dalam membangun Jawa Barat. Hari itu benar-benar istimewa, bukan hanya karena acara yang dihadiri hampir 1500 peserta tersebut berjalan lancar, melainkan karena dalam forum itu pula terungkap sebuah rahasia yang memberikan inspirasi kepada saya dan juga para peserta yang hadir. 

Setelah menyampaikan pengantar pembekalan berupa  ice breaking  dan materi singkat terkait harapan agar 1500 peserta yang datang dari berbagai pelosok Jawa Barat itu menjadi  agent of change di daerahnya masing-masing, saya diminta langsung memandu acara talkshow . Saya mempersilakan pembicara pertama untuk tampil, yakni Gubernur Jawa Barat. Pak Ahmad Heryawan masuk dengan tenang. Ia tidak langsung menempati tempat duduk yang telah disediakan, melainkan menyalami beberapa peserta dekat pintu masuk. Rupanya, semua orang yang berada di baris depan berebutan bersalaman dengan Pak Gubernur. Ia pun dengan tersenyum menyalami orang-orang tersebut.

Format acaranya santai dan dialogis, miriplah seperti acara “Hitam Putih”-nya Deddy Corbuzier atau “Bukan Empat Mata”-nya  Tukul  Arwana  yang  sesekali  diselingi  dialog  canda  tawa. Setelah Gubernur menyampaikan arahan dan dialog singkat, saya pun memanggil pembicara kedua, yakni istri gubernur, Ibu Netty Prasetiyani. Beliau pun masuk dengan menyalami peserta yang berdekatan dengan jalur menuju sofa tempat  talkshow . Ini kesempatan langka, Gubernur dan Istri berada dalam satu forum dan format acara yang santai. Muncul ide untuk menggali keseharian dua orang penting di Jawa Barat itu sebagai profil mereka sebagai satu keluarga.

Saya bertanya tentang interaksi mereka dengan anak-anaknya. Bu Netty Prasetiyani menjawab, “Untuk menyampaikan nilai yang mendidik kepada anak-anak, terkadang saya menggunakan teknik bercerita. Anak-anak senang mendengarkan cerita di malam hari menjelang tidur. Salah satu cerita yang paling digemari anak-anak, bahkan sering minta diulang, adalah ‘Kisah Asep Penjual Gorengan’.”Saya tertarik dengan kalimat terakhir dari Ibu Netty Prasetiyani. Saya pun meminta kesediaan beliau untuk menceritakan isi kisah ‘Asep  Penjual  Gorengan’  yang  telah  memikat  hati  anak-anak Gubernur Jawa Barat.

Ibu Netty tersenyum sambil menganggukkan kepala. Kemudian, beliau melihat semua peserta yang seperti sudah tak sabar. Bagaikan seorang ibu yang sedang mendongeng kepada anak-anaknya, beliau mulai bercerita:“Ada seorang anak SD yang tinggal bersama neneknya. Namanya Asep. Setiap berangkat sekolah, ia berjualan gorengan. Ia tidak malu berjualan gorengan untuk membantu kebutuhan sehari-hari keluarganya. Terkadang, ia berangkat ke sekolah sambil nyeker  (tanpa alas kaki) karena keterbatasan (ekonomi)  keluarganya. Di luar waktu sekolah, Asep mengisi waktu luangnya dengan belajar. Ia terkenal kutu buku. Sering sekali ia membaca buku dengan semangat di atas pohon, padahal di bawah dekat pohon itu ada kuburan. Saat suasana mulai gelap, barulah ia turun dari pohon tersebut.Ia juga sering mengaji Al-Qur’an di masjid. Selain ilmu umum di sekolah, ia pun senang belajar ilmu-ilmu agama Islam.

Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT, Asep bisa melanjutkan sekolah sampai SMA. Pada saat SMA, minat dan semangatnya terkait agama menyebabkan Asep aktif di rohis (kerohanian Islam). Keilmuan Asep di bidang agama pun mulai diakui oleh masyarakat.  Di usianya yang masih sangat muda, ia sudah sering menjadi ustadz muda yang diminta berceramah dari satu kampung ke kampung lainnya.

Suatu ketika, Asep sedang menyampaikan ceramahnya dengan bahasa yang sistematis dan jelas. Para hadirin terpesona dengan penjelasan Asep yang sederhana dan mudah dipahami. Ada seorang wanita yang matanya sembap, air mata pun mengalir. Ia bersyukur kepada Allah karena Asep diberi karunia ilmu agama dan dipercaya oleh masyarakat. Ternyata, wanita tersebut adalah ibunda Asep yang ikut hadir. Setelah SMA, Asep diterima kuliah di IPB. Namun, dengan berat hati ia tidak melanjutkan kuliah karena memprioritaskan adik-adiknya yang masih sekolah dan perlu biaya yang banyak. Ia pun sempat diterima di IAIN Sunan Gunung Djati (sekarang UIN Sunang Gunung Djati). Dengan keterbatasan ekonomi keluarganya, Asep berusaha mencari beasiswa. Alhamdulillah,   pada saat itu ada pengumuman penerimaan mahasiswa baru Universitas Muhammad Ibnu Sa‘ud Saudi Arabia cabang Asia Tenggara. Asep mendaftar dan lulus dengan beasiswa penuh untuk belajar bahasa Arab dan ilmu syariah di universitas tersebut. Asep belajar dengan tekun sehingga berhasil lulus kuliah. Setelah lulus, Asep terus aktif dalam dunia dakwah. Ia pun dikenal oleh masyarakat sebagai salah seorang da‘i yang juga aktif dalam bidang pendidikan dan politik.

Nah, Asep yang dulu penjual gorengan itu sekarang ada di rumah kita,” pungkas Bu  Netty  Prasetiyani  sambil  tersenyum mengakhiri cerita kepada anak-anaknya.

“Oh, jadi Asep penjual gorengan itu Bapak, ya?’ Itulah ungkapan yang muncul dari anak-anak saat pertama kali mendengar cerita ‘Asep Penjual Gorengan’,” tambah Bu Netty.

Akhir cerita itu membuat saya terpana. Sepertinya, para peserta pun demikian. Kami tidak menyangka bahwa ternyata kisah “Asep Penjual Gorengan” itu adalah kisah nyata Gubernur Jawa Barat saat masih kecil, di daerah Sukabumi. Ternyata, Asep itu adalah panggilan Pak Ahmad Heryawan waktu kecil.

Saya baru ingat bahwa Universitas Muhammad Ibnu Sa‘ud cabang Asia Tenggara itu bernama LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) yang bertempat di Jakarta dan merupakan kampus tempat Pak Ahmad Heryawan dahulu berkuliah dan menimba ilmu bahasa Arab dan keislaman.Saya menatap wajah Pak Ahmad Heryawan yang tampak ikut terharu teringat pengalaman masa kecilnya. Ada anggukan kecil disertai senyuman seolah membenarkan apa yang baru saja dijelaskan oleh istri tercinta.

Tiba-tiba,  saya  seolah  tersedot  ke  masa  lalu  dan  seolah menyaksikan seorang anak SD berjualan gorengan dan terkadang berangkat ke sekolah dengan nyeker  karena keterbatasannya. Kini, anak itu menjadi Gubernur Jawa Barat yang sedang duduk berdekatan dengan saya pula. Subhanallah….

Kisah  “Asep  Penjual  Gorengan”  itu  sungguh  menginspirasi. Bukan hanya bagi saya, bagi 1500 peserta yang hadir pun demikian. Dalam lembar evaluasi yang dibagikan panitia di akhir acara, ada salah seorang yang menyatakan, “Saya terkesan dengan kisah ‘Asep Penjual Gorengan’. Saya akan menceritakannya kembali kepada anak-anak saya.”

( sumber: aher undercover )

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.