Pertarungan PKS di media masa

Arif “godate” | Kompasiana

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERAKalian tahu bagaimana sebuah berita itu terbit? Semuanya melalui penyutradaraan. Mendesain skenario, memilih ending cerita, menyusun dialog, menentukan aktor dan terakhir memblowupnya dengan menggunakan tangan – tangan institusi yang berkepentingan. Terlihat sempurna? Tidak! Karena mereka tidak berusaha lebih jauh lagi. Karena masuk lebih kedalam adalah hal yang paling sulit dan rumit. Tapi setidaknya sudah menimbulkan kegaduhan, karena peluang bisnisnya ada di sana.

Di awal cerita, situasi mulai berkembang, sutradara berharap sesuai dengan skenarionya, semua aktor menjalankan perannya dengan baik tanpa cacat. Respon masyarakat akan terbelah dan lebih banyak menunggu tercerita merespon balik. Tapi bagaimana jika ia tidak merespon balik. Skenario kedua akan di jalankan. Terus menerus memberikan informasi dan menyebarkan isu – isu dengan mengerakkan semua mesin yang ada, salah satunya mesin informasi di internet.

Katakanlah kalau si tercerita merespon balik, apa yang akan terjadi? Rancangan cerita ini akan menjadi sempurna dan membawa efek “kerusakan” lebih luas. Kepada siapa? Tentunya kepada kedua belah pihak, tapi resiko dan harga yang di bayar lebih banyak di tanggung oleh si tercerita. Melawan kecerdikan dan siasat tentu saja di lawan dengan tipu muslihat. Dalam konteks “pertarungan politik” antara Tempo dan PKS + Aher, Tempo takkan menang dan lebih cerdik dari pada PKS dalam hal membuat sebuah berita.

Jika Tempo memiliki ahli dalam bidang sinematografi, akting, dan penulisan cerita, sedangkan PKS memiliki lebih dari itu semua, PKS punya cerita, mesin politik, media dan banyak lainnya. Siapa yang di kirimkan oleh PKS menghadapi politik pragmatis Tempo? Sang aktor politik terbaik, yaitu Anis Matta. Cukup Anis Matta melakukan penyataan politik, semua mata akan memandang kepada politisi muda ini, dan lagi – lagi cerita akan berganti, fokus tema akan beralih dan semua pengamat mencoba menerjemahkan apa dan makna pernyataan Anis, lalu skenario cerita Tempo akan kembali di recyle setelah masuk ke dalam tong sampah.

Jika Tempo harus menghabiskan resourcenya untuk melakukan investigasi dan menginvestasikan uangnya untuk mencetak ribuan majalah dan membayar aktor – aktor untuk mengangkat isu yang di bawanya. Anis Matta dengan sangat cerdik dan piawai memanfaatkan media massa secara gratis untuk menjalankan taktik dan siasatnya dan mengubah keadaan seperti yang di skenariokan oleh PKS. Dalam hal kecerdikan dan siasat, PKS masih berjalan di depan dan melihat dari spion bagaimana Tempo terus mengejarnya.

Bagaimana dengan akhir cerita Tempo dan PKS? Penonton suka dengan cerita yang happy ending. Lalu siapa yang bahagia? Akankah pelaku “kebenaran” “Sang pewarta berita” atau Pelaku politik”? lalu siapakah yang akan menang dan apakah yang menang selalu benar? Kalau di dalam film Hollywood begitu juga yang di buat oleh SinemaArt “Penjahat tidak boleh menang. Itu dongeng moralitas” .

Tapi cerita ini berbeda. Dalam konteks politik, cerita ini takkan pernah berakhir, tidak ada happy ending semuanya akan berganti part, dan pertarungan takkan pernah usai. Melihat skema berita politik kita membutuhkan pendalaman dan pengamatan yang komprehensif. Memahami di balik motif dan membaca cerita dengan berulang – ulang dan menemukan kejanggalan cerita. Ini membutuhkan waktu dan kesabaran. Cerita terbaik sekali pun mempunyai kelemahan. Dan itu bisa di temukan dengan melihatnya berkali – kali. karena poltik lebih misterius dan sulit di pahami dari serial novel Agatha Cristie.

Siapa Kau … ?”

“Aku tak bisa katakan.”

“Siapa Kau … ?”

“Dia akan “membunuhku jika Ia tahu.”

“Kau meminta kepercayaan dariku tanpa memberiku kepercayaan.”

“Kau membawaku kedalam urusan berbahaya, dan aku berhak tahu siapa yang memanfaatkanmu?”

“Siapa kau …?”

“Aku Reporter … seorang Jurnaslis”

“Bukan, kau seorang politikus, yang bersarang di media!”

 

Pengelabuan dan teknik penyesatan

Di dalam sebuah berita ada cerita – cerita yang sengaja di ciptakan. Tujuannya dalam rangka pengelabuan, pengelabuan terhadap tujuan – tujuan pokok, yaitu kepentingan taktis dan strategis dari tujuan berita itu di sebarkan. Dengan prinsip jurnalisme dan kebebasan berbicara, teknik pengelabuan ini bertujuan melakukan penyesatan dan juga mengiring sebuah opini.

Penyesatan melalui data – data, argumentasi – argumentasi, tabel – tabel dan juga sumber – sumber lainnya. Yang dilihat oleh mata, di dengar oleh telinga, bertujuan memanipulasi dan di percayai pikiran. Skema berikutnya, menciptakan “kebenaran” tapi di satu sisi dan menciptakan “kerusakan” dan “kekacauan” pikiran, bertujuan menempelkan stigma – stigma negatif dan disambut dengan olok – olokan khas politik.

Di pertengahan jalan, sang sutradara tinggal menyaksikan semua skenario berjalan sesuai dengan di harapkannya. Aktor – aktor baru bermunculan dan cerita semakin berkembang. Tipu daya yang paling bahaya dalam dunia jurnalistik yang di kendalikan aktor politik yang memainkan perannya sebagai pewarta berita. “Apa yang di lihat oleh mata, apa yang di dengar oleh telinga, kemudian di percayai pikiran”.

Ini Sinetron! Bukan panggung Politik?

Berita dalam konteks politik tidak seperti hitam dan putihnya kebenaran itu sendiri. Mitos dualitas terbesar di dunia yang sampai detik ini masih di ekspresikan dalam berbagai bentuk yang tidak berlaku dalam berita politik. Walau pun pewarta berita mengklaim apa yang di beritakannya sudah dalam standar jurnalisme.

Menonton sinetron tidak membutuhkan pengamatan yang panjang dan dalam. Bukan karena kita terlalu pintar, tapi karena alur ceritanya yang mudah di tebak dan memang dibuat untuk melepas ketegangan, makanya acara sinetron lebih banyak di putar selepas jam 7 keatas, kecuali TV One dan Metro TV yang banyak mengulas drama politik.

Menonton berita politik akhir – akhir ini pun tidak berbeda jauh dari alur cerita sinetron, beritanya silih berganti. Hari ini, partai A besok aktor politik B. Belum tuntas membahas kasus A tiba – tiba berganti kasus B. Sampai nanti telah di ujung kasus Z, tiba – tiba kasus kembali ke A . siapa yang paling di untungkan dalam hal ini, tentu saja media dan keuntungan ialah ekonomi.

Share terbesarnya masih di ambil harian koran, kedua televisi. Lalu di mana posisi penjualan majalah saat ini? Masih di paling bawah dalam market share. Tapi tentu saja peluang bisnis ini harus dikejar demi menaikkan income profit perusahaan dan juga positioning brand. Bohong besar kalau mereka mengatakan ini demi kebenaran, dalam konteks politik tepatnya mungkin “Kebeneran nih!”

Idealisme jurnalisme memang menarik, di bangku kuliah menjadi diskusi yang hangat, terbuka dan penuh dengan antuasisme. Tapi di dunia kerja, industri media tetap berorientasi mengumpulkan uang sebanyak – banyaknya dengan segala siasat dan cara. Idealisme tak lebih dari konsepsi utopis ketika berhadapan dengan kepentingan yang lebih besar, yaitu korporasi media, sang gurita yang mengendalikan berita.

Pemilik korporasi media memandang “kebenaran” adalah permainan yang sangat menarik untuk “memukul” “menyandera” dan akhirnya “menghukum” musuh politiknya. Di akhir cerita kebenaran sejati kembali ke tempat asalnya dan termenung dalam kesunyian di dalam hati para wartawan yang masih berlari – lari dilapangan, masih dengan motor bututnya, memandang realitas dan kebenaran versi media yang jatuh dari realitas, apakah ia akan berontak? nuraninya diam dalam kesunyian. Karena ia sadar anak istrinya membutuhkan makan dan lain – lannya. Idealisme masih hidup di dalam hati para wartawan seperti cahaya lilin yang tertiup angin malam, menerangi walau pun samar – samar.

Oya, jika kau tetap tak mengerti semua ini, itu karena kau tidak mendengarkannya.

 

Salam Bikin Repot ^_^

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.