Film “Hasduk Berpola” : Kisah inspirasi dari kota Ledre

136210975951695_300x430Satu lagu film nasional karya anak negeri kembali akan ditayangkan. Film penuh inspirasi, kaya akan edukasi  dan kecintaan kepada negeri ditengah mulai “lunturnya” nilai-nilai nasionalisme. Film ini berjudul “Hasduk Berpola”, karya sutradara muda, Harris Nizzam. Film yang sebagian besar lokasi syutingnya dilakukan di kota Ledre Bojonegoro di bintangi oleh 10 anak-anak berbakat dari Bojonegoro-Surabaya.

Sebagai sutradara muda Harris Nizam mengaku telah menolak menggarap sebelas film bergenre horor dan enggan menggarap film berbau porno. Pria berusia 29 tahun ini merasa malu bila harus menggarap film berbau pornografi. “Jangankan konten filmnya, untuk menyebut judul filmnya saja saya malu,” kata dia.

Sutradara film “Surat Kecil Untuk Tuhan” dan “Hasduk Berpola” ini mengukuhkan dirinya sebagai sutradara yang harus mampu menggarap film layar lebar yang tidak hanya menghibur namun juga harus memiliki unsur edukasi dan menginspirasi penontonnya.

“Film adalah alat propaganda yang paling ampuh. Sadar atau tidak, penonton bisa berubah akibat menonton film,” kata Harris.

Film “Hasduk Berpola” menceritakan tentang Masnun (Idris Sardi), veteran tentara pelajar berusia 74 tahun, yang bekerja sebagai buruh pertambangan minyak tradisional di Bojonegoro. Di kota itu, dia tinggal bersama anaknya, Rahayu (Iga Mawarni) beserta dua cucunya, Budi (Bangkit Prasetyo) dan Bening (Fay Nabila).

Mereka tinggal dalam kemiskinan di kota itu. Masnun yang sudah tidak kuat lagi menjadi buruh tambang, di tengah harapannya bisa menerima uang pensiun veteran, memilih beralih menjadi tukang tambal ban. Sementara Rahayu bekerja di sebuah warung nasi rawon milik Bu Haji dan menerima jahitan.

Seringkali, mereka makan nasi dengan kuah rawon sisa yang dibawa Rahayu setiap sore. Bila tidak ada sisa rawon yang bisa dibawa, sementara dia tak punya uang, Rahayu pun hanya menyajikan nasi dengan parutan kelapa dan garam.

“Waktu kecil, ini menu kesukaan ibu. Ayo dicoba,” kata Rahayu menghibur kedua anaknya.

Di tengah kemiskinan, Budi yang berusia 12 tahun pun tumbuh sebagai anak yang cukup bengal. Musuh bebuyutannya adalah Kemal yang dianggap sebagai penghalang utamanya untuk mendekati Arum, teman sekolah yang dia sukai. Kemal dan Arum sama-sama aktif di kegiatan Pramuka.

Dengan niat mendekati Arum dan bisa menyaingi Kemal, Budi pun memutuskan untuk menjadi Pramuka. Sayang, dia tidak memiliki atribut Pramuka yang lengkap, yaitu baret dan hasduk merah putih. Padahal, dia terpilih untuk mengikuti jambore dan harus beratribut lengkap.

Cerita “Hasduk Berpola” berpusat pada upaya Budi memiliki hasduk. Untuk mendapatkan uang, dia bekerja sebagai kuli pengangkut bawang di pasar. Untuk menambah uang, dia pun rela menjual layang-layang bergambar wayang buatan ayahnya.

Bagaimana Budi mendapatkan hasduk untuk mengikuti jambore? Mengapa pula disebut hasduk berpola? Lalu, untuk apa Budi nekad menerobos masuk ke Hotel Majapahit Surabaya? Jawabannya tentu ada di film “Hasduk Berpola” yang akan segera tayang di bulan maret ini.

* by admin@jalurgaza

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.