Ketika Media Dikalahkan Sepotong Kolak

Bang Sadi Rangkuti | Kompasiana

kolak-pisang-pandan-jpg_Ada yang mengatakan “ Jika Ingin Merebut Dunia Kuasailah Media” .sehingga semua orang berlomba-lomba ingin memiliki Media. Media yang saya maksudkan adalah semua Media, baik Media Cetak, Online, Radio, Televisi dan Social Media.

Mereka yang ingin menguasai Media dari berbagai profesi dan tujuan yang berbeda-beda. Pengusaha memanfaatkan Media untuk menunjang penjualannya,seorang Artis untuk menunjang kariernya,dan para Politisi untuk memenangkan Partainya…

pada tahun 2013 ini kita bisa melihat para Politisi banyak yang menggunakan Media untuk meningkatkan popularitas Partainya maupun popularitas dirinya. Banyak Politisi Indonesia yang telah menguasai Media,sehingga mereka memanfaatkan Media tersebut untuk menghancurkan partai lain, dan membuat seolah-olah hanya partainyalah yang terbaik.Menggiring opinini public dengan berbagai cara, memanfaatkan Medianya untuk menyerang partai lain, baik secara sembunyi (tersirat) atau terang-terangan.

Akhirnya partai yang tidak menguasai Media citranya babak belur,dihantam oleh Partai yang kadernya menguasai Media,sebut saja Partai Demokrat ,semua kasus korupsi yang menyeret kadernya dihakimi oleh opini public melalui media, begitu juga dengan PKS kadernya yang baik- baik,sholeh dan sopan-sopan pun terkena serangan media.ada isu kesalahan pks setitik ,menjadi sasaran empuk bagi Media,beritanya kerap kali menjadi topik utama,dan menutup mata dengan kebobrokan Partainya.

Ditinjau secara lanjut media TELAH BERHASIL menghantap Partai Demokrat menjadi babak belur ,hingga survey terakhir partai ini hanya mendapat 8-11% suara. Tetapi tidak untuk PKS, opini public melalui media menjadikan partai ini semangkin kokoh,karena bagi masayarakat paham bahwa PKS itu kerap dizolimi, berita-berita itu semua bohong,selain itu masarakat sering bertemu kader PKS sehari-hari .mereka dapat menilai secara langsung .

Dan sehebat-hebatnya Partai dan Politisi yang menggunakan media,bahkan menghabiskan dana besar untuk media, menurut saya pada akhirnya nanti akan kecewa dan akan ditinggalkan para pemilihnya, karena ternyata media masih kalah dengan sepotong kolak.

Sepotong kolak…ya kolak .kolak terbuat dari pisang ,yang dipotong-potong dimasak dengan campuran santan dan gula merah.

Ini terjadi ketika pemilihan gubernur sumatera utara 7 maret lalu . Bu ani (bukan nama sebenarnya) pada hari pemilihan , datang menjumpai kader PKS didekat rumahnya menanyakan. PKS nomor brapa (maksudnya calon gubernur yang didukung PKS ).kemudian langsung mendatangi tps dan memilih pilihannya,tentunya pilihannya pilihan PKS…

Setelah di tanyakan kenapa sampai datang kerumah menanyakan nomor PKS,bu ani bilang memastikan jangan sampai salah pilih.Karena dia sering mendengarkan berita miring tentang PKS di Tv dan dikoran-koran yang di bacanya,bahkan anaknya sempat mengatakan kalau kita jangan pilih PKS…

Tapi dengan tenang dia mengatakan :

nak,kamu kenal pak pohan (bapak Abdul Rahman Pohan ini kader PKS)

yakin gak kamu dia itu korupsi?

Yakin gak kamu kalau dia berbohong

sementara solatnya di mesjid, akhlaknya bagus…

anaknya menjawab tidak bu…

ingat gak kamu bulan puasa kemarin, siapa yang memberi kolak pada kita??

TV ? Koran? nggak kan … ?

iya bu jawab anaknya…ya udah yok kita pilih PKS (maksudnya calon PKS).

begitulah masyarakat . mereka tidak begitu peduli dengan Media. mereka lebih melihat kerja…mereka melihat dengan mata hati. Walaupun para Politisi menghabiskan iklan di TV, menghabiskan dana untuk menghujat partai lain di TV, Koran, Majalah ,dll. Tetapi mereka tidak begitu peduli.

Jadi buat para polikus nakal,jangan terlalu berharap banyak dengan media….karena “MEDIA TELAH DIKALAHKAN DENGAN SEPOTONG KOLAK”.

Terimakasih telah membaca

Semoga anda bahagia…

Bang sadi

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.