Aktor Drama Seks (Hukum) “Opera Sabun” PKS

35EB3F202D1875DA2CF21A5F7BA6Kalau ada Grammy Award tahun ini untuk acara gosip, skandal dan juga hiburan murahan, mungkin KPK sebagai sutradara sekaligus PHnya bakal memenangkan 5 kategori sekaligus.

Pertama skenario terbaik (penyuapan lalu pencucian uang), aktor – aktor terbaik (peran protagonis KPK), sinematografi terbaik (menangkap gambar dan mengabung – gabungkan gambar dari hukum ke “kelamin”), ilustrasi dan sound terbaik (rekayasa kesan) dan terakhir figuran terbaik (wanita – wanita “simpanan”)

Saat ini drama hukum Fatonah – Lutfi masih seputar mendengarkan rekaman, babak persidangan pun masih mengambil kesimpulan dugaan. Fakta yang dikatakan KPK ternyata tak mampu menjadikan kasus hukum Fatonah dan Lutfi sebagai kasus hukum yang terkait dugaan penyuapan. Seorang swasta (Fatonah) yang bekerja sebagai calo diperlakukan melakukan penyuapan? Melakukan pencucian uang? Dan melakukan korupsi yang merugikan negara?

Bak acara Silet yang diperankan Feny Rose, juru bicara KPK dengan sering dan berulang – ulang menyebut nama – nama wanita yang diduga mendapatkan uang dari hasil pencucian uang? Uang yang mana? Uang dari hasil penipuan? Atau uang hasil dari penyuapan? Penyuapan yang mana? Media yang butuh berita “panas” pun tidak peduli dengan benar atau tidaknya semua ini. semuanya di “goreng” dengan berbagai macam cara. Muncullah saingan berat Feny Rose di dunia gosip dan selebritis, aktor KPK.

Upaya hukum yang dilakukan KPK mulai terlihat seperti acara cek & ricak, silet, gosip, bibir merah, dada montok, paha mulus dan sejenisnya. KPK mulai bertindak hiper-realitas, sebuah upaya menghukum orang dengan fakta non hukum, dengan drama “opera sabun” nya. KPK mencoba mengiring opini dan melakukan rekayasa kesan untuk menghukum Lutfi dan PKS, kesimpulannya dengan mudah terlihat, KPK melakukan kontrol dan redesign persepsi publik terhadap kasus Lutfi dan meletakkan stempel “mesum” diwajah institusi yang bernama PKS.

KPK menabrak kepatutan etis, political correctness terhadap Lutfi dan juga PKS dengan cara melakukan pengiringan opini yang awalnya adalah kasus hukum tapi kini diberi kosmetik moral, sebuah “gincu” kegenitan dan kerusakan moral yang ingin dilabelkan terhadap institusi politik. Tendensi seperti ini sangat mencemaskan dan sangat menguatirkan, dugaan bahwa KPK ternyata tidak lepas dari kepentingan politik sesaat dan bisa digunakan sebagai alat pemukul terhadap lawan politik tertentu adalah persepi yang mungkin benar, tapi juga bisa jadi salah.

Siapa pun tidak akan bisa menjamin KPK bersih dari kepentingan, jika PKS bukanlah Malaikat dan kumpulan orang – orang suci dan pasti berbuat salah maka KPK bukan Tuhan yang selalu benar tanpa salah, atau Tuhan yang punya kitab suci sendiri tanpa siapa pun yang berhak mentafsirkannya.

Selera KPK begitu rendah?

Dalam kasus mega korupsi seperti skandal Century, KPK bertindak seperti orang buta di siang hari, seperti orang tuli ditengah keramaian, seperti orang bisu ketika dimintai keterangan. Hambalang pun sunyi senyap, tak ada drama “opera sabun” layaknya kasus dugaan penyuapan kuota impor daging sapi. Tak ada dugaan pencucian uang dan juga tidak ada tersangka yang ditahan dan lagi – lagi tidak ada “rok” yang bersebaran.

Ketika KPK begitu bersemangat bahkan kelewatan semangat dan melampaui batas dengan mengangkat “rok” perempuan yang diduga mendapatkan uang dari Fatonah tinggi – tinggi sampai isi celana dalamnya pun keliatan dan dilihat oleh semua orang, ini menunjukkan selera KPK yang “rendah” terhadap kasus skandal dugaan penyuapan impor daging. KPK dengan seleranya yang “rendah” memilih konsentrasi penuh memandang isi “rok” perempuan tersebut dari pada skandal hukum itu sendiri.

Pantas beberapa hari kemarin KPK didemo oleh sekumpulan “banci” yang memberikan “pil” sakti untuk KPK. Tujuannya supaya KPK mempunyai keberanian dalam mengusut mega trilyunan korupsi. Jika “Banci” saja berani mengambil resiko dalam pilihannya, mengapa KPK malah menurunkan seleranya dan asik bermain di dalam “rok” para perempuan dalam lingkaran Fatanah ?? masihkah “tangan – tangan” KPK “mengerayangi” isi dalam “rok” perempuan di dalam lingkaran kehidupan Fatonah?

Adakah yang ingin menyadarkan KPK dari “syahwat” politiknya ini?

Salam bikin repot ^_^

Penulis adalah Kader KaPeK(a) dan juga simpatisan PeKaes Piyungan ( :D)

*sumber: kompasiana

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.