Moursi dan Detik-Detik Kudeta As-Sisi

many-liberal-egyptians-are-cheering-the-very-military-they-denounced-just-two-years-agoBy: Nandang Burhanudin

Abdul Bari ‘Othwan, penulis internasional melalui akun Facebooknya menjelaskan detik-detik peristiwa pra-kudeta hingga pembantaian di depan Mako Garda Republik.

Ada 8 fragmen yang menjelaskan detik-detik kudeta secara rinci. Hal ini terjadi di kantor Kemenhan.

Pada hari Jumat jam 9 malam di kantor Kemenhan, dilakukan rapat darurat antara Letjend As-Sisi dan Para Komandan Seluruh angkatan bersenjata Mesir, tanpa dihadiri Pangkostrad karena berada di luar kota. Rapat darurat harus segera diadakan untuk menentukan siapa yang diutus melakukan lobi dengan Presiden Moursi.

Fragmen Pertama:
Dalam rapat darurat tersebut disepakati untuk mengutus Mayjend Shidqi Shubhi, panglima Angkatan Bersenjata ditemani oleh Marsekal Madya Yunus Sayyid untuk melobi Presiden Muhammad Moursi.

Fragmen Kedua:
Kedua Jenderal ini pun berangkat menemui Presiden MOursi, pada jam 2 hari Sabtu untuk menawarkan dan menekan Moursi opsi-opsi berikut:

1. Mundur sebagai Presiden. Moursi menolak mentah-mentah.
2. Kemudian ditawarkan opsi untuk mengganti PM Hisyam Qandil dengan El-Baradai dengan wewenang di bidang politik dan ekonomi yang luas dan powerfull, tanpa ada wewenang Presiden untuk melakukan intervensi.
3. Jika menolak, power Moursi sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata ditiadakan. Sebagai Presiden, Moursi tidak turut campur dalam masalah alutsista dan masalah internal militer. Moursi menanggapi dengan tertawa dan berkata, “Semoga Allah membuka hati kalian. Sungguh kalian telah menyia-nyiakan waktuku untuk Qiyamullail.”
Jawaban Moursi membuat kedua Jenderal ini marah. Hingga Mayjend Shubhi berteriak kencang, “Demi Allah, kami akan bunuh kalian (IM) satu per-satu. Dengan demikian, Anda telah membuka izin untuk pertumpahan darah. Anda tidak mungkin kembali menjadi Presiden, sebelum melangkahi mayat-mayat kami. Akhir dari kepunahan Anda dan jamaah Anda lebih dekat daripada yang Anda perkirakan.”

Fragmen Ketiga:
As-Sisi kembali mengadakan rapat darurat Dewan Jenderal, tepatnya pada hari Sabtu jam 7 pagi. Rapat Dewan Jenderal menindaklanjuti laporan intelejen militer yang mengungkapkan ketegangan di Satuan-satuan Komando militer. Semua personil dan prajurit berada dalam tekanan psikologis berat.

Di saat rapat itulah, Brigjen Usamah Askar Panglima Teritorial menyerang keputusan As-Sisi yang terkesan terburu-buru. Mendengar dirinya dipersalahkan, As-Sisi langsung berteriak keras, menyerang semua anggota rapat bahwa masalah yang sekarang berlangsung terjadi karena persetujuan dewan Jenderal.

Pertengkaran makin sengit, melibatkan semua yang hadir, tidak lagi memperhatikan pangkat dan jabatan militer. Akhirnya rapat dewan Jenderal ini tidak menghasilkan keputusan apapun.

Fragmen Keempat:
Sabtu, Jam 12 Siang

As-Sisi mengadakan rapat kembali yang melibatkan Brigadir Jenderal Shidqi dan Brigadir Jenderal Ahmad Abud Dahab Direktur Bintal (Bimbingan Mental).

Tujuan rapat adalah:
=> mengevaluasi rekomendasi intelejen militer.

=> Menentukan roadmap untuk mengendalikan keadaan, khususnya membungkam media dan aksi demonstran besar-besaran yang menolak kudeta yang diprediksi terjadi pada hari Ahad.

=> Menekan media untuk fokus memberitakan pengkhianatan Ikhwanul Muslimin, menebar propaganda bahwa Ikhwanul Muslimin adalah sel teroris, dengan kembali memaparkan sejarah masa lalu IM.

=> Berkoordinasi dengan Kemendagri untuk melakukan aksi-aksi teror, tempat yang menjadi target teror, dan sekaligus mendokmentasikannya.

Fragmen Kelima:
Ahad, jam 5 Sore (Ashar)

Badan Intelejen Militer kembali menyampaikan warning kepada Letjend As-Sisi. Isi peringatan tersebut adalah:

=> bahwa demonstrasi yang dilakukan Ikhwanul Muslimin makin bergelora dengan jumlah yang fantastis. Dalam laporan itupun disebutkan, IM justru meraih empati dan simpati masyarakat luas. Bahkan jumlah demonstran -menurut data intelejen- meningkat tajam dari 750 ribu hingga mencapai 900 ribu. Sedangkan pada saat itu, lokasi Rab’ah Al-Adawiya telah dipenuhi lautan manusia 1.5 juta demonstran.

=> bahwa media-media asing tak kenal lelah menekan pemerintah negaranya untuk tidak mengakui “arah baru” Mesir.

=> paling berbahaya adalah komunikasi intensif di kalangan perwira menengah dari mulai pangkat Kolonel dengan Direktorat Teknologi Militer, Brigjen Harab Thahir Abdullah. Mereka meminta segera ada keputusan bulat dan cepat, agar dapat mengendalikan keadaan apapun resikonya.

Fragmen Keenam:
Ahad, 10 Malam

Mayjend Mamduh Syahin mengontak Muhammad Badi’, Mursyid IM. Dalam dialog tersebut, militer mengajukan opsi damai kepada Muhammad Badi’ namun ditolak. Muhammad Badi’ menjawab, “Saya tidak akan melakukan negosiasi dengan seorangpun. Kini bersama kalian ada Presiden kami dan Presiden kalian, Muhammad Moursi. Silahkan kalian melakukan negosiasi dengannya.”

Fragmen Ketujuh:
Ahad, 00 pagi (Shubuh) Hari Senin

Mayjend Shubhi pun menemui Presiden Moursi untuk kali kedua. Ia memaparkan jumlah syuhada dari jamaah Ikhwanul Muslimin yang terus berjatuhan, dan jumlahnya ratusan dan berlangsung hampir di seluruh provinsi MEsir. Menurut Shubhi, pelakunya adalah para preman dan polisi. Sedangkan pihak militer belum turun tangan.

Dengan tegas Shubhi berkata, “Jika Anda bergeming dengan penolakan Anda (untuk mundur), kami akan menyembelih kalian semua. Keadaan Mesir akan kacau balau. Kami tidak memiliki penawaran lain setelah hari ini. Pilihannya hanya dua: Anda menyerahkan kekuasaan, atau kembali berkuasa menjadi Presiden dengan syarat-syarat yang telah ditawarkan dua hari lalu. Jika tidak, darah Anda dan darah pendukung Anda taruhannya.

Moursi menjawab, “Jika hari ini saya terima (tawaran militer), setelah banyak menelan korban dan kemudian Anda baru melakukan negosiasi tentang mereka. Sungguh saya telah berkhianat kepada mereka (para syuhada) dan mengkhianati sumpahku di hadapan Allah dan di hadapan rakyat. Jika hari ini saya terima, dipastikan tidak ada harapan masa depan bagi negeriku saat berada di bawah kendali kalian (militer). Bunuhlah aku. Demi Allah, ketika aku dibunuh itu jauh lebih ringan bagiku.”

Fragmen Kedelapan:
Ahad, 2 Pagi hari Senin

Letjend As-Sisi kembali melakukan rapat darurat Dewan Jenderal. Dihadiri Mayjend Shubhi, Komandan Garda Republik, dan Direktur Operasi Militer Brigjed Muhsin Asy-Syadzili. Rapat Dewan Jenderal bersepakat untuk melakukan operasi BULSIT (penimbul situasi), berupa penembakan dan bentrokan yang menyebabkan pertumpahan darah. Operasi ini sebagai presure agar para demonstran (terutama IM) mau berunding dan berdialog.

Namun sayangnya, kami tidak mengetahui detail operasi di lapangan dan bagaimana bentuknya. Hingga akhirnya, pembantaian demonstran damai di depan Mako Garda Republik terjadi.

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.