Mesir dan IM: Rahmat Allah yang Terzhalimi

ikhwanul-muslimin-dan-hasan-al-bannaBy: Nandang Burhanudin

Berbicara Mesir, selalu menyiratkan kebanggaan. Bukan karena saya pernah lama bercengkrama dengan suasana unik Mesir, tapi memang Mesir memiliki catatan sejarah panjang yang patut dibanggakan.

Bagi saya, Mesir itu seperti Indonesia. Jumlah penduduknya banyak. Kekayaan alamnya melimpah. WN-nya heterogen. Pemahaman fiqhnya juga beragam. SDM-nya telah sukses membuat negeri-negeri tetangga pintar-pintar. Bahkan Syaikh Al-‘Uraifi saat khutbah Jumat di masjid Amru bin Ash menegaskan, “Tak seorang pun Saudi, kecuali pernah diajari mengaji oleh seorang Mesir. Tak seorang pun Saudi, melainkan pernah berdiri menjadi makmum dalam shalat yang diimami oleh orang Mesir. Bahkan air zam-zam pun merupakan berkah dari Ismail, putra Siti Hajar, yang juga datang dari Mesir. Dst.”

Itulah Mesir. Negeri yang di saat ekspansi pasukan Salib ke dunia Islam, mereka sukses mencaplok SYam. Namun laju pasukan Salib berhasil ditahan pasukan Mesir, hingga ekspansi ke-7 pasukan Salib yang dikomandoi Raja Perancis Louis IX gagal total. Bahkan Louis IX berhasil ditangkap dan dijebloskan ke penjara di Mansoura, salah satu provinsi di wilayah Barat Mesir.

Mesir pula yang berhasil menahan arus pasukan Tatar. Padahal Tatar telah menguasai Khawarizmi hingga Baghdad. Khilafah Abbasiyah ia tumbangkan. Pasukan Tartar dihentikan di medan tempur ‘Ain Jalut oleh pasukan Mesir.

Pun ketika Napoleon Bonaparte melancarkan kolonialisasi ke wilayah Mesir di akhir abad 18 M, bangsa Mesir melawan hingga tetes darah penghabisan. Setelah itu datang Inggris di abad 18 H, Inggris pun berhasil dihalau. Hingga beberapa kali perang Palestina, terjada pasukan Mesir menjadi yang terdepan.

Setelah era Perang melawan Israel, hingga keberhasilan Mesir menguasai kembali dataran Sinai, pihak Barat (AS-Israel) menggalakkan kajian. Apa yang membuat Mesir begitu kokoh menentang hegemoni pengaruh mereka. Mereka meyakini, kunci Timur Tengah adalah di Mesir. Jika Mesir damai-baik-tenteram, maka efeknya akan meluas ke dunia Islam dan dunia Arab tentunya. Buktinya nampak dan terasa. Ratusan ribu warga Mesir pergi menjelajah, menjadi delagasi untuk mengajarkan Islam di seantero dunia.

Akhirnya mereka menemukan jawabannya, yaitu:

1. Pengaruh pemahaman keislaman yang kuat, karena faktor Al-Azhar sebagai lembaga independen yang memberlakukan pendidikan gratis dan terukur.

2. Pengaruh pergerakan Ikhwanul Muslimin, yang menyatukan pemahaman keislaman dengan pengorbanan dalam beramal.

Untuk meredam pengaruh Mesir, maka dibuatlah skenario pembusukan dari dalam. Mulai dari emansipasi wanita, liberalisasi kurikulum Al-Azhar, korupsi, dan merusak kaum muda dengan narkoba-minuman keras-freesex-hingga judi. Itulah yang terjadi di era rezim Mubarak dan sebelumnya. Hingga revolusi 25 Januari bergema. Lengserlah Mubarak, tanpa pertumpahan darah.

to be continued ..

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.