Krisis Mesir: Indonesia, Negeri yang Sepi Empati

al-azhar_univ2By: Nandang Burhanudin
*****

Di penghujung kepulangan ke Indonesia, setiap mahasiswa/i diharuskan mengambil kembali ijazah Aliyah yang sejak tahun pertama dititipkan di Syu’un Thullab (Bidang Kemahasiswaan) Universitas Al-Azhar.

Waktu itu, sistem pengarsipan di Al-Azhar sangat kuno. Namun anehnya, bagian kemahasiswaan belum pernah salah atau kehilangan data-data mahasiswa yang masih ia tulis tangan belum sistem komputerisasi.

Yang ingin saya ceritakan di sini adalah, pengalaman bagaimana Syuun Thullab itu berkata, “Silahkan pulang. Selamat sukses. Kami Al-Azhar sudah meluluskan puluhan ribu mahasiswa/i asal Indonesia. Kami bangsa Mesir, sangat welcome menerima Anda. Tapi mengapa pemerintah Anda, sangat pelit memberikan beasiswa kepada kami, walau jumlahnya hanya puluhan!”

Saya pun terdiam. Selang 13 tahun dari peristwa tersebut. Saya perhatikan, perhatian pemerintah Indonesia kepada Mesir dan rakyatnya masih tak sebanding dengan jasa rakyat Mesir kepada Indonesia. Jika pengakuan kemerdekaan adalah jasa yang tak terbalas, maka jasa bangsa Mesir menyelamatkan 1700 mahasiswa/i saat Krisis moneter tahun 1997, rasa-rasanya hingga kini pun tak terbayarkan. Hingga kasus kudeta Mesir. Kita sebagai rakyat, sangat bingung dengan sikap kepala negara dan kepala pemerintahan negeri ini.

Seorang presiden yang sangat responsif soal seorang artis yang keluar dari penjara karena kasus perzinahan, bahkan responsif mengucapkan belasungkawa saat Mbah Surip meninggal, tapi terdiam atas krisis demokrasi akibat kudeta dan pembantaian masyarakat sipil yang tengah shalat di Mesir. Bukankah Indonesia adalah bangsa besar? Negara paling sukses dengan sistem demokrasi, HAM, dan perhatian kepada penindasan?

Apakah karena pejuang-pejuang Islam yang meraih mayoritas suara, lalu kemudian menganggap sah untuk dikudeta dan mengesampingkan proses demokrasi?

Apakah karena pejuang-pejuang Islam yang menjadi korban, lalu kemudian mengamini pembantaian jamaah shalat oleh aparat sehingga tak ada lagi HAM?

Apakah karena jasa pengakuan bangsa Mesir, sebagai negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia dikalahkan dengan “cengkeraman” Paman Sam yang justru hingga kini membuat Indonesia kembali terjajah?

Apakah karena jasa bantuan penyelamatan mahasiswa/i Indonesia dikalahkan oleh bantuan pinjaman AS yang kemudian dikorupsi, sedangkan bantuan masyarakat Mesir tidak dirasakan dan tidak bisa dikorupsi pejabat Indonesia?

Bapak Presiden SBY, sebelum kekuasaan Bapak berakhir, sampaikan belasungkawa terhadap korban pembantaian shalat Shubuh atau bersikap tegas dengan mengutuk kudeta Militer terhadap pemerintahan yang sah! Atau Bapak Presiden akan terus membiarkan, bahwa Negara Indonesia adalah negara yang tak pandai berterimakasih walau sekedar empati?

Semoga saya salah sangka ya pak. Saya yakin Bapak Presiden SBY adalah orang cerdas dan bijak. Tidak akan membuat keputusan mendukung atau tidak mendukung atas dasar tekanan publik, apalagi hanya note di status Facebook. ***

Bandung: 22:56, 12/07/13

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.