Ramadhan Syahrul Qur’an

kondisi-kapanpun-dan-dimanapun-harus-tilawahRamadhan adalah bulan yang sangat mulia. Didalamnya diturunkan Alquran, kitab bagi umat Islam. Karena itu,  Ramadhan disebut pula dengan bulannya Alquran (Syahrul Qur’an).

Momentum Ramadhan hendaknya menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk memperbanyak amal ibadah, termasuk membaca dan mengamalkan Alquran.

“Puasa dan Alquran akan memberikan syafaat kepada seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata, ”Wahai Tuhanku, aku telah menahannya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafaat kepadanya.” Sedangkan Alquran berkata, ”Aku telah mencegahnya dari tidur malam, maka perkenankanlah aku memberikan syafaat kepadanya.” (HR Ahmad dan Al-Hakim).

Hadis di atas menjelaskan kepada kita bahwa shaum (puasa) dan Alquran dapat memberikan syafaat. Puasa memberikan syafaat karena dapat membendung syahwat seorang hamba, sedangkan Alquran memberikan syafaat karena ia telah mencegah seorang hamba dari tidur malam untuk bercengkrama dengannya.

Ramadhan seakan menjadi tempat untuk keduanya. Diwajibkan puasa satu bulan penuh sebagai madrasah untuk memperbaiki diri setelah sebelas bulan disibukkan oleh rutinitas dunia.

Alquran adalah bacaan yang menjadi teman setia bagi orang-orang beriman di saat-saat menjalankan ibadah puasa. Karenanya, Ramadhan adalah Syahrul Qur’an, bulan diturunkannya Alquran untuk pertama kali.

Jika melihat sejarah salafus saleh dalam berinteraksi dengan Alquran, akan didapati bahwa kita sangat jauh dibandingkan dengan mereka. Dalam sebuah riwayat disebutkan, Imam Abu Hanifah dalam hidupnya mampu mengkhatamkan Alquran sebanyak enam ribu kali.

Umar ibn Khathab mampu mengkhatamkan Alquran pada setiap malam, sampai-sampai putra beliau yang bernama Abdullah berkata, “Ayahkulah yang menjadi sebab turunnya ayat Allah. Ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?” Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS Az-Zumar [39]: 9).

Usman ibn Affan mampu mengkhatamkan Alquran setiap harinya. Imam Syafii mengkhatamkan Alquran selama Ramadhan sebanyak enam puluh kali. Imam Qatadah mengkhatamkan Alquran setiap tujuh malam pada hari biasa dan setiap tiga malam pada bulan Ramadhan, sedangkan pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan beliau mengkhatamkan Alquran setiap malam. Imam Ahmad mengkhatamkan Alquran setiap pekannya.

Itulah gambaran hidup para salafus saleh yang hari-harinya tidak pernah lepas dari Alquran. Semoga kita mampu mencontoh apa yang telah mereka lakukan, yakni dengan menjadikan Ramadhan sebagai Syahrul Qur’an. “Sebaik-baiknya orang di antara kamu adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari). “Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk itu.” (QS Al-An’am [6]: 90).

Ada beberapa kewajiban yang harus kita tunaikan terhadap Al-Qur’an.

1. Mengimaninya dengan sepenuh hati.

2. Membacanya. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an dan dia mahir dalam membacanya, maka ia akan ditemani para malaikat yang mulia lagi penuh kebaikan. Dan barangsiapa yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan mengalami kesulitan maka dia akan mendapatkan dua pahala.” (HR Bukhari dan Muslim)

3. Memahami kandungannya. Selain membaca, berikutnya adalah memahami kandungan Al-Qur’an karena ia adalah kitab petunjuk yang bisa menyelamatkan kita di dunia dan akhirat.

4. Menghafalkannya sesuai kemampuan. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang didalam hatinya tidak ada sesuatupun dari Al-Qur’an ibarat rumah yang rusak.” (HR At-Tirmidzi)

5. Mengamalkannya. Setelah mengimani, membaca dan memahami, kewajiban berikutnya yang paling penting adalah mengamalkan kandungan isi Al-Qur’an dalam kehidupan kita sehari-hari.

6. Mengajarkan dan mendakwahkannya. Dan jika kita mampu, kita juga diwajibkan untuk mengajarkan dan medakwahkan Al-Qur’an kepada orang lain.

Wa Allahu A’lam bi sawwab

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.