Antara Asma’ Al Beltagy dan Asma’ Al Asaad

asma-assad-horzIni adalah kisah hidup dua anak manusia yang sama-sama bernama Asma’.  Yang satu bernama Asma’ Al Beltagy dan satunya lagi Asma’ Al Asaad.

Asma al-Assad
Asma al-Assad, adalah istri Presiden Bashar al-Assad. Pemimpin negara Suriah yang sudah bertahun-tahun dilanda peperangan. Ibu negara Suriah ini lahir 11 Agustus 1975, dibesarkan dan dididik di Inggris oleh orang tuanya yang merupakan kelahiran Suriah. ia lulus dari King College London pada tahun 1996 dengan gelar sarjana dalam ilmu komputer dan sastra Prancis. Ia kemudian mengejar karir di bidang perbankan investasi internasional sebelum pindah ke Suriah dan dengan Bashar al-Assad pada bulan Desember 2000.

Asma dikenal sebagai seorang wanita yang mempunyai gaya hidup mewah. Ia sangat konsumtif meskipun disaat negaranya sedang dilanda perang sipil berkepanjangan. Pada awal tahun 2012, media Barat menyoroti semangat belanjanya yang gila-gilaan, dan menyamakannya dengan Imelda Marcos dalam hal selera beli barang.

Daily Mail melaporkan ibu Negara itu memiliki kebiasaan memesan makanan barat untuk anak-anaknya. Dia menghabiskan 450 ribu dolar AS atau setara dengan Rp 4,9 miliar untuk lampu gantung tahun lalu. Dia juga mem-posting foto dirinya mengenakan aksesoris kebugaran.

Ia mendampingi Assad selama konflik Suriah. Secara nyata ia memberikan pembelaan kepada suaminya yang ditengarai sudah membunuh ribuan muslim Sunni di Suriah. “Ia adalah Presiden Suriah, bukan faksi Suriah, dan saya mendukung dia dalam peran itu,” demikian tulisnya kepada sebuah media Barat internasional.

Asma’ Al Beltagy
Lain Asma’ Al Asaad, lain lagi kisahnya dengan Asma’ yang satu ini. Asma’ Al Beltagy, umurnya baru 17 tahun. Dia adalah anak dari salah satu pemimpin gerakan ikhwanul Muslimin di Mesir, yang juga Sekjen Freedom and Justice Party.

Cantik parasnya, mulia akhlaknya, terjaga kehormatannya. Namun sayang, asma’ mati diusia muda. Syahid ketika ditembak oleh rezim militer dan polisi Mesir biadab saat terjadi penyerangan terhadap demonstran damai pro demokrasi p‪ada 14 Agustus 2013 di Rabiah Adawiyah Square, Kairo, Mesir.

Usianya baru 17 tahun, tapi ia ikut dalam perjuangan mempertahankan hak dan kebenaran. Ia turun langsung di lapangan bersama jutaan rakyat Mesir yang ingin menghentikan rezim militer. Kini ia telah tiada. Ruhnya pergi menuju satu-satunya yang ia miliki, Allah SWT.

Tinggal pilihan ada ditangan anda wahai wanita muslimah.  Hidup di dunia dengan bergelimang harta dan kemewahan atau mati khusnul khatimah sebagai syuhada.

 

*admin jalurgaza

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.