Tragedi Rab’ah II, Membongkar Siapa Sebenarnya Pecundang Hakiki!

SpeakUp

Waktu Moursi menjabat, ada yang teriak-teriak: “Myanmar noh … umat Islam dibantai. Mana presiden yang katanya hafizh Al-Qur’an?”

Lalu ada yang komen sinis, “Alah … yang hapal Al-Qur’an banyak … !”

Ketika Moursi dikudeta militer, orang yang sama komentar, “Salah sendiri! Percuma orang Islam naik tanpa Islam.”

Saat tragedi Rab’ah I, dia komentar, “Salah sendiri. Mau-maunya dibodohi demokrasi!”

Nah setelah tragedi Rab’ah II, ribuan sudah syahid dan puluhan ribu luka-luka, ia komentar pula, “Itu hukuman bagi penghamba demokrasi!”

Singkatnya, menuntut orang lain berbuat maksimal. Namun ia tak pernah berkontribusi walau hanya bentuk sumbangsih minimal. Ketika yang dituntut maksimal celaka, ia malah teriak; “Puas … puassssss … puaassss … habis gak mau denger nasihat gue sich!”

****

Dalam hati, saya katakan, “Gilaa! Otak yang berhamburan ditembak junta militer, nampaknya lebih mulia daripada otak tipikal manusia di atas. Bahkan sepatu saya, mungkin lebih berharga daripada komentar nyinyir yang jauh dari nilai-nilai syariah yang katanya ia perjuangkan.”

Namun bagi saya, komentar miring tipe pejuang syariah di atas sangat mirip dengan komentar orang-orang Liberal-Sekuler. Perhatikan komentar Guntur Romli atau sang kanibal ideologi, Zuhairi Misrawi. Kesamaan mereka, sama-sama menjadikan Ikhwanul Muslimin sebagai the common enemy. Nyinyir di kala IM mustanir. Sumir di saat IM terjungkir.

Dari banyak literatur yang ditelaah, para pembenci IM hanya terdiri dari:

1. Israel dengan beragam organisasi binaannya.
2. Pendengki yang tidak rela kepemimpinan Islam dikomandoi Ikhwanul Muslimin.

Jadi, sunnatuttamhish di medan Rab’ah benar-benar nyata. Memilah-memilih antara gemerlap wah kuningan, dengan kilauan emas batangan. Pasti akan beda! Oleh karena itu, mari “singkirkan” dalam hati kita tuntutan kepada para pejuang syariah agar terbuka hati sekedar “berhenti menebar komen-komen atau kabar-kabar fitnah”. Sebagaimana kita jauhkan harapan orang-orang LIberal-Sekuler untuk sekedar menghormati keberadaan kita! Karena mereka berdua ada, dicipta sebagai perusak suasana!

Jadi, hikmah tragedi Rab’ah II, membuka tabir kepada kita:
1. Tipikal sejati pecundang adalah yang selalu berkompromi dengan penjajah, menikmati “saweran penjajah”, dan bekerja dengan penjajah.
2. Tipikal sejati pecundang adalah yang diciptakan penjajah untuk menggerogoti umat Islam dari dalam. Nyaring saat ada satu nyawa penjajah yang terbaring. Namun hening saat ribuan umat Islam tewas digiling tank dan senjata beracun.

Maka bagi kita, mari untuk tidak tertarik hingar bingar propagandanya. Karena mereka tak ubahnya ular berbisa!

 

*Ust. Nandang Burhanudin

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.