Yaaa ‘Abidal Haramain …

9374149255_3b6d6439ae_oSyair ini ditulis  oleh ibnul Mubarak kepada murid beliau, Muhammad bin Ibrahim untuk dikirimkan kepada Fudhaill bin Iyadh di Makkah.

Fudhail bin Iyadh adalah ulama yang dijuluki ‘abidal haramain karena begitu rajinnya beribadah dan mengisi sepanjang malamnya dengan shalat.
Saat itu, Ibnul Mubaraq bersama kaum muslimin tengah berjihad melawan tentara tar tar yang tengah menyerang negerinya.

Wahai ahli ibadah di dua tanah Haram …
seandainya kau melihat kami,
niscaya kau akan tahu bahwa engkau dan ibadahmu itu hanyalah main-main belaka ..

Orang yang membasahi pipinya dengan linangan air matanya …
sementara kami membasahi leher kami dengan darah-darah kami ..

Atau orang yang membuat lelah kuda perangnya dalam kesia-siaan …
sementara kuda-kuda kami lelah payah di medan pertempuran ..

Aroma bagimu adalah wewangian yang semerbak,
sementara wewangian kami adalah pasir dan debu-debu yang mengepul …

Telah datang kepada kita sabda sang nabi ….
Perkataan yang jujur lagi benar dan tidak dusta …

Bahwa tidaklah sama debu-debu kuda di jalan Allah yang menempel di hidung seseorang dan kobaran asap dan api yang menyala-nyala …

Inilah kitabullah yang berbicara di antara kita …
orang mati syahid itu tidaklah mati, dan ini bukanlah kedustaan …”


Muhammad bin Ubrahim bin Abi As Sukainah berkata: Saya menemui Al Fudhail bin ‘Iyadh di Masjidil Haram dan dia bersama surat itu. Ketika dia membacanya, nampak kedua matanya berlinang, dan dia berkata: “Abu Abdirrahman (Abdullah bin Al Mubarak) telah benar dan dia telah menasihatiku.”
Muhammad bin Ibrahim bertanya: “Apakah engkau termasuk yang menuliskan haditsnya?”
Beliau menjawab: “Ya”, lalu dia bekata lagi: “Tulislah hadits ini, sebagai balasan untukmu yang membawakan surat Abu Abdirrahman untukku.” Lalu Al Fudhail bin ‘Iyadh mendiktekan untukku:


Berkata kepada kami Manshur bin Al Mu’atamar, dari Abu Ash Shaalih, dari Abu Hurairah, bahwa ada seorang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, apakah ada amal perbuatan yang sebanding dengan jihad fi sabilillah?, beliau menjawab: “Kalian tidak akan mampu.” Mereka bertanya hingga dua atau tiga kali, semuanya dijawab: “Kalian tidak akan mampu.” Begitu yang ketiga kalinya, beliau bersabda: “Perumpamaan mujahid di jalan Allah bagaikan seorang yang berpuasa, shalat malam, berdzikir membaca ayat Allah, tidak pernah henti dari puasa dan shalatnya itu sampai pulangnya si mujahid di jalan Allah Ta’ala.”

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.