Memahami Peta Politik Indonesia

 

12-partai-peserta-pemilu-2014Ada yang bertanya, “Siapa yang pantas dipilih menjadi Presiden di Indonesia pada pesta demokrasi 2014?”

Maaf, sebelum menjawab pertanyaan di atas. Ada baiknya kita memahami peta perpolitikan dan sisem demokrasi di Indonesia. Uraian ini adalah pemahaman pribadi.

Bagi saya, Indonesia memiliki kekhasan sendiri dan hampir tidak ditemukan model di negara-negara lain. Kekhasan itu antara lain:

1. Sistem yang dianut adalah Presidensial seperti di AS, namun power partai politik sangat dominan. Jumlah parpol melebihi parpol di AS bahkan di negara-negara maju sekalipun. Sehingga di INA, presiden terpilih bisa jadi bukan dari parpol pemenang pemilu.

2. Gubernur-bupati-walikota dipilih langsung. Uniknya, dengan otonomi daerah jabatan tersebut menjadi semi independen. Sebagai kepala negara dan pemerintahan, Presiden Indonesia tidak memiliki “hak” perintah atau mencopot kepala daerah yang secara administrasi berada di bawah kontrol NKRI. Malah lebih unik lagi, gubernur pun hanya bersifat koordinasi dengan kepala daerah di bawahnya.

3. Secara ideologis, persaingan parpol-parpol di Indonesia sudah bias. Fundamentalisme ideologi tidak nampak lagi. PDIP sebagai partai Marhaen, ternyata welcome dengan NU-Muhammadiyah. PPP sebagai partai Ka’bah, juga tidak alergi dengan doktrin-doktrin nasionalisme. Bahkan PKS sebagai partai berbasis kaum muda Islam, menganut azas Islamis-Nasionalis. Semua bisa bersatu dalam bingkai: KEMASLAHATAN bersama.

Dengan kekhasan ini, maka bisa ditarik kesimpulan:

1. Jabatan Presiden di Indonesia, tidak terlalu signifikan seperti jabatan Presiden di AS atau Mesir. Saya lebih merekomendasikan kepada sosok calon yang Muslim secara agama dan Sunni secara akidah. Visioner dalam membawa Indonesia menjadi negara kuat. Bukan sosok peragu. Satu hal yang penting: Siap memberantas korupsi, tidak sekedar teori seperti China.

2. Justru yang harus dipilih adalah calon-calon legislatif, harus diperbanyak karakter-karakter di atas. Karena legislatif di INA memiliki 3 fungsi superpower. Fungsi LEGISLASI-ANGGARAN-dan Pengawasan. Saya membayangkan, jika orang-orang baik dan sholeh terpilih, dan ia berbasis dari partai Islam atau Nasionalis Religius, maka saya yakin Indonesia akan memiliki Legislasi yang kokoh dan anggaran signifikan untuk kesejahteraan.

3. Selain itu semua, jangan lupakan aparat hukum sebagai pelaksana teknis. Terutama diwakili oleh KEPOLISIAN-KEJAKSAAN-KEHAKIMAN. Legislasi sebagus apapun, akan NOL besar hasilnya jika tidak ada tim terpadu yang menjalankan dan mengawasinya.

Maka kesimpulannya adalah:
1. Jangan pernah berhenti berdakwah ke semua lapisan masyarakat.
2. Jangan GOLPUT, pilih parpol yang memiliki karakter: Islamis-Nasionalis-Tegas dan berani.

Wallahu A’lam

 

*Ust. Nandang Burhanudin

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.