Resensi

Judul : Pilar-pilar Kebangkitan Umat

Penulis : Abdul Hamid al-Ghazali

Penerbit : Al-I’tishom, Jakarta

Tahun : 2008, cetakan ketiga

Tebal : 337 + xx halaman

Buku ini penting sebagai bekal bagi calon pemimpin untuk memotret kondisi umat secara apa adanya. Proses terjemahan yang cukup lancar membuat pembaca tak kesulitan untuk menangkap gagasan orisinal penulisnya. Namun, judul buku terjemah tampaknya sudah disesuaikan kebutuhan pasar, karena judul asli adalah ”Haula Asasiyat al-Masyru al-Islami li an-Nahdlah al-Ummah: Qira’at fi Fikri al-Imam al-Syahid al-Ustaz Hassan al-Banna”. Mestinya secara harfiyah berarti: “Tentang Fondasi Proyek Keislaman untuk Kebangkitan Umat: Telaah atas Pemikiran Imam Hassan al-Banna”. Topik yang serius, sebab penulisnya memang menawarkan metoda ilmiah untuk meneliti pemikiran Islam.

Berbeda dengan penulis dakwah yang lain, Abdul Hamid al-Ghazali menyempatkan diri untuk mengembangkan metodologi riset (manhaj qira’ah) untuk menelusuri jejak perintis dakwah sebelumnya. Metoda itu mirip dengan content analysis dalam kajian sosial. Dengan metoda itu penulis berhasil meringkas pemikiran Hassan Al-Banna, salah seorang pembaharu Islam di abad ke-20, seraya melukiskan dakwah sebagai proyek kebangkitan.

Dari kerangka ilmiah itu pula, penulis sanggup menyimpulkan rekonstruksi negara ideal (islah ad-daulah/al-hukumah) yang dicita-citakan perintis dakwah terdahulu, baik dari segi pemikiran, perjuangan, kebijakan, maupun dimensi peradaban. Sekali lagi, tampak jelas bahwa dakwah bukan pekerjaan amatiran, apabila sekadar obyek sampingan. Gagasan yang komprehensif dan brilian itu bersumber dari metodologi khusus yang diterapkan Al-Banna dalam praktek dakwahnya yang mengandung: analisis sejarah, analisis realitas, penetapan kaidah umum, dan perumusan prediksi masa depan. Itulah buah dari kejeniusan seorang da’i yang hingga hari ini pengaruhnya telah menyebar ke seluruh pelosok dunia.

Dalam hal analisis sejarah, ternyata Al-Banna tak hanya mengkaji warisan sejarah Islam yang disebut penulis berlangsung dalam tujuh periode. Mulai dari deklarasi wahyu pertama, penegakan Negara-madinah, hingga mengalami dekadensi, pergulatan politik, pergulatan sosial, dan pahitnya hegemoni Barat. Setelah masa suram itu akan hadir fase kebangkitan. Al-Banna juga menyoroti sejarah manusia di dunia Barat dan Timur. Bahkan, secara khusus meneliti sejarah gerakan pembaruan di masa Khulafa al-Rasyidah, Daulah Abbasiyah, Ayyyubiyah, dan Saudiyah. Fenomena pembaharuan juga diakui terjadi di negeri Barat dengan gerakan renaissance.

Selanjutnya pemahaman sejarah ini diperkuat dengan pemahaman terhadap realitas (fiqhul waqi’). Begitu seriusnya Al-Banna memandang pentingnya penguasaan realitas, sehingga ia memanfaatkan analisis kuantitatif (berupa data demografis, geografis, pendidkan, kesehatan, kriminalitas, dll), disamping analisis kualitatif (seperti: serangan budaya asing, sindroma penyakit umat, agenda permasalahan, dll). Jelas sekali bahwa juru dakwah yang efektif harus memiliki pisau analisis yang lengkap.

Setelah kemampuan analisis teruji, maka diupayakan untuk menarik simpulan dan menetapkan kaidah umum (generalisasi) bagi perkembangan dakwah. Ada 12 kaidah yang disimpulkan penulis, beberapa di antaranya adalah setiap proses perubahan didasari oleh suatu fikrah (ideologi atau idealisme) dasar yang kuat. Tanpa ideologi atau idealisme, maka perubahan yang terjadi hanya bersifat artifisial yang suatu saat akan pudar. Selain itu kekuatan motivasi akan menentukan keberhasilan suatu gerakan, tak hanya faktor materi atau finansial. Mereka yang memiliki motivasi jernih dan mantap akan dapat menyingkirkan kelemahan fisik dan kendala di sekitarnya. Sebaliknya, mereka yang memiliki kelimpahmewahan sarana dan sumberdaya, tanpa motivasi yang benar, akan hancur dengan sendirinya.

Berdasarkan kaidah tersebut, penulis memprediksi kondisi masa depan yang akan dialami umat Islam dan umat manusia pada umumnya. Prediksi itu bukan ramalan kosong, namun berbasiskan perspektif sosiologis, historis, logika, dan agama. Lengkaplah suatu panduan untuk mereformasi umat. Secara teknis, proyek kebangkitan dapat dibuat blue print-ya yang meliputi: karakteristik dakwah, prinsip implementasi, tujuan yang akan dicapai, infrastruktur yang dibutuhkan, dan peran tarbiyah (aktivitas pengkaderan serta pembinaan SDM). Penjelasan ini seperti mengingatkan kita kembali pada “Enam Visi Reformasi” di Indonesia yang kini masih terbengkalai.

Buku ini memiliki kelebihan tersendiri dengan banyaknya sajian bagan, tabel, dan rujukan penting yang sangat membantu pembaca untuk memahami dan menangkap ide Al-Banna secara cepat. Penulis juga telah meringkas pemikiran yang berserakan, menata-ulang kerangka berpikir, mengomentari dan memberi tafsir terhadap karya dan kiprah Hasan al-Banna. Siapapun yang ingin membangkitkan umat ini dari tidur panjang, wajib membaca buku ini. Terlebih lagi kalangan muda Muslim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s