20
Agt

Apa batu besar dalam diri anda ??

Suatu hari, seorang ahli “Manajemen Waktu” berbicara didepan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan para siswanya. Dia mengeluarkan toples berukuran satu galon yang bermulut cukup lebar, dan meletakkannya diatas meja. Lalu ia juga mengeluarkan sekira selusin batu berukuran segenggam tangan, dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu kedalam toples.

Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yang muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya, “Apakah toples ini sudah penuh?” Semua siswanya serentak menjawab, “Sudah.”

Kemudian dia berkata, “Benarkah?” Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga ke rikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu itu. Lanjutkan membaca ‘Apa batu besar dalam diri anda ??’

20
Agt

Jama’ah Manusia

Kita tarbiyah dalam lingkungan manusia. Sebagai sebuah konsekuensi dari struktur sosial masyarakat, diferensiasi sosial akan senantiasa ada. Atau dengan kata lain, diferensiasi sosial adalah keniscayaan bagi sebuah struktur sosial masyarakat. Dengan diferensiasi sosial masing-masing elemen, kelompok atau komponen masyarakat memiliki status dan perannya yang khas. Misalnya, status pengurus sebuah organisasi akan menciptakan peran yang berbeda dengan orang lain yang berstatus sebagai anggota organisasi. Demikian pula halnya dengan diferensiasi sosial dalam keluarga, perusahaan, kantor, instansi, dan lain-lainnya. Pendek kata, untuk setiap status sosial tersedia pula peran sosial yang khas atau spesifik. Lanjutkan membaca ‘Jama’ah Manusia’

07
Jul

Kebutuhuan Kita akan kritik

“Kritik hanya akan efektif memperbaiki seseorang atau suatu keadaan apabila anasir
anasirnya terpenuhi. Pertama, ada niat yang benar dari orang yang mengeritik bahwa ia
melakukan itu semata-mata sebagai pelaksanaan dari kewajiban munashahah sesama muslim, dan untuk itu ia mengharapkan pahala dengan melaksanakan kewajiban itu. Kedua, memang ada kesalahan objektif yang harus dikritik, baik kesalahan personal maupun kesalahan kebijakan. Ketiga, kritik itu disampaikan dengan cara yang benar dan tepat sesuai dengan adab-adab munashahah dalam Islam”.

Kita akan mendapat begitu banyak keuntungan dengan menumbuhkan sikap kritis secara merata sebagai sebuah kultur dalam kehidupan berorganisasi. Tidak terkecuali organisasi dakwah. Asasnya adalah bahwa manusia secara individual menyimpan kelemahan bawaan, dan karenanya ia secara terus menerus membutuhkan kontrol, pengendalian dan perbaikan berkesinambungan. Lanjutkan membaca ‘Kebutuhuan Kita akan kritik’

24
Jun

Keteladanan seorang murabbi

Pernahkah Anda mengalami suatu saat ketika Anda membuka mushaf dan Anda mulai membaca Al-Qur’an kemudian anak-anak Anda datang mendekati Anda sambil membawa buku Iqra’nya lalu mereka melakukan hal yang sama seperti apa yang tengah anda lakukan? Pernahkah Anda mendapatkan mutarabbi (objek dakwah/peserta didik/murid) Anda mengerjakan shaum (puasa) sunnah padahal Anda secara eksplisit tidah pernah menyuruhnya? Hal tersebut dilakukan oleh mutarabbi Anda hanya karena ia mendapatkan Anda juga melakukan shaum sunnah pada hari-hari sebelumnya.

Pernahkah Anda mengalami khadimat Anda perlahan-lahan menyesuaikan diri dan penampilannya di tengah-tengah keluarga Anda, mulai terbiasa mengenakan gaun panjang, memakai kerudung walau pada awalnya cuma nempel di atas kepala, tapi toh lama kelamaan ia menjadi terbiasa berjilbab baik ketika ia bekerja di dalam rumah apalagi di luar rumah? Padahal isteri Anda belum pernah berkata kepadanya bahwa memakai jilbab itu wajib, apalagi memperdengarkannya ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan kewajiban menutup aurat baik dalam surat An-Nur maupun Al-Ahzab.

Itulah buah dari keteladanan. Keteladanan adalah cara berdakwah yang paling hemat karena tidak menguras enerji dengan mengobral kata-kata. Bahkan bahasa keteladanaan jauh lebih fasih dari bahasa perintah dan larangan sebagaimaana pepatah mengatakan: “Lisaanul hal afshahu min lisaaanil maqaaal”, bahasa kerja lebih fasih dari bahasa kata-kata. Dalam ungkapan lain keteladanan ibarat tonggak, dimana bayangan akan mengikuti secara alamiah sesuai dengan keaadaan tonggak tersebut, lurusnya, bengkoknya, miringnya, tegaknya. Benarlah pepatah ini: “Kaifa yastaqqimudzdzhillu wal ‘uudu a’waj”, bagaimana bayangan akan lurus bila tonggaknya bengkok. Lanjutkan membaca ‘Keteladanan seorang murabbi’

24
Jun

Thoriq bin Ziyad, Sang penakluk spanyol

Setelah Rasulullah saw. wafat, Islam menyebar dalam spektrum yang luas. Tiga benua lama -Asia, Afrika, dan Eropa-pernah merasakan rahmat dan keadilan dalam naungan pemerintahan Islam. Tidak terkecuali Spanyol (Andalusia). Ini negeri di daratan Eropa yang pertama kali masuk dalam pelukan Islam di zaman Pemerintahan Kekhalifahan Bani Umaiyah.

Sebelumnya, sejak tahun 597 M, Spanyol dikuasai bangsa Gotic, Jerman. Raja Roderick yang berkuasa saat itu. Ia berkuasa dengan lalim. Ia membagi masyarakat Spanyol ke dalam lima kelas sosial. Kelas pertama adalah keluarga raja, bangsawan, orang-orang kaya, tuan tanah, dan para penguasa wilayah. Kelas kedua diduduki para pendeta. Kelas ketiga diisi para pegawai negara seperti pengawal, penjaga istana, dan pegawai kantor pemerintahan. Mereka hidup pas-pasan dan diperalat penguasa sebagai alat memeras rakyat.

Kelas keempat adalah para petani, pedagang, dan kelompok masyarakat yang hidup cukup lainnya. Mereka dibebani pajak dan pungutan yang tinggi. Dan kelas kelima adalah para buruh tani, serdadu rendahan, pelayan, dan budak. Mereka paling menderita hidupnya. Lanjutkan membaca ‘Thoriq bin Ziyad, Sang penakluk spanyol’

04
Apr

Belajar dari Partai Islam Turki

 

Turki merupakan suatu negeri yang memiliki kisah panjang tentang jatuh bangunnya peradaban. Di negeri ini pula Islam pernah sedemikian bercahaya gemerlap tatkala Kekhalifahan Islam Turki Utsmani masih berdiri kokoh. Dan seorang Abdullah ‘Azzam, pernah pula berlinang airmata kesedihan ketika menulis satu demi satu kalimat yang diuntainya menjadi sebuah buku berjudul ‘Pelita Yang Hilang’. turki-lady.jpg

Turki merupakan pelita Islam di gerbang Eropa. Sebab itu, musuh-musuh Allah senantiasa berupaya sekuat tenaga untuk memadamkan pelita tersebut.

Konspirasi Yahudi Internasional-lah, lewat seorang Yahudi dari Dumamah bernama Mustafa Kemal, yang meruntuhkan kekhalifahan Turki Ustmaniyah. Sejak itu, Mustafa Kemal menghancurkan semua simbol-simbol keIslaman dari negeri tersebut dan membunuh siapa saja yang berani menghalang-halanginya.

Setelah kekhalifahan hancur, Mustafa Kemal segera memberlakukan hokum sekularisme di negeri tersebut. Semua yang terkait dengan simbol-simbol keIslaman, walau sekecil apa pun, menjadi sesuatu yang dilarang. Barangsiapa yang masih mempergunakannya maka akan diseret ke penjara. Adzan pun yang di mana-mana mempergunakan bahasa Arab diganti dengan bahasa Turki. Allahu Akbar menjadi Allahu Buyuk. Jangan tanya soal hijab atau jilbab, semuanya dicampakkan jauh-jauh. Lanjutkan membaca ‘Belajar dari Partai Islam Turki’

01
Apr

Syar’i kah berdakwah Melalui Parpol ?

artikel ini kami ambil dari rubrik ustadz menjawab situs eramuslim.com

Assalamualaikum wr wb.

Pak ustad, apakah benar bahwa dalam berdakwah dengan cara mengikuti paratai politik tidak syar’i. Dengan alasan bahwa cara berdakwah harus mengikuti cara rosululloh saw yang tidak mengikuti pemerintahan kaum quraes saat itu.

Jazakumulloh.

Mulya
Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Berdakwah lewat partai politik memang sering menimbulkan polemik. Ada yang setuju dan mendukung sekali secara mutlak, tetapi ada juga yang justru sangat antipati. Di tengah-tengahnya ada kalangan yang agak mengambang, antara mendukung dan tidak, semua dikembalikan kepada manfaat dan madharatnya.

Kalau mau dikembalikan ke zaman nabi Muhammad SAW, rasanya kita memang tidak menemukan sosok beliau sebagai aktifis partai. Bukan apa-apa, sebab memang tidak ada partai-partaian di masa beliau. Makkah memang tidak menganut sistem politik seperti di masa kita sekarang ini. Boleh dibilang sistemnya adalah kabilah dan suku, bukan pola semacam state atau negara, bahkan kerajaan pun juga bukan.

Maka kalau acuannya harus ada contoh teknis dari Rasulullah SAW, rasanya memang tidak akan ketemu dalilnya. Tapi apakah bila tidak ada contoh teknis acuan yang detail, lantas berpartai boleh dibilang bid’ah atau menyalahi sunnah? Lanjutkan membaca ‘Syar’i kah berdakwah Melalui Parpol ?’

27
Mar

Penulis Buku “Mereka Adalah Teroris” Itu Kini Terbaring Sakit

Lukman Ba’abduh, penulis buku ‘Mereka Adalah Teroris’, dikabarkan sedang sakit. Dia dirawat di sebuah rumah sakit di Pekalongan. Demikian info yang didapatkan dari MyQuran dan pimpinan al Irsyad. Lukman Ba’abduh selama ini dikenal sebagai seorang ustadz yang berhaluan “salafy” yang menulis buku “Mereka Adalah Teroris”. mat.jpgBuku itu ditulis sabagai bantahan atas buku “Aku Melawan Teroris” yang ditulis Imam Samudera. Dalam perkembangannya, buku tulisan Ba’abduh itu memancing keluarnya buku “Siapa Teroris Siapa Khowarij” yang ditulis Abduh Zulfida Akaha, penerbit Pustaka Al Kautsar.

Seolah tak terima dengan buku bantahan Abduh Zulfida, Lukman Ba’abduh kemudian membuat buku bantahan sebanyak dua jilid, yang masing-masing berjudul “Menebar Dusta Membela Teroris Khowarij” dan “Mengidentifikasi Neo-Khowarij”.

Beberapa waktu lalu, Pustaka al Kautsar merilis buku baru berjudul “Belajar Dari Ulama Salafy” (BAUS) yang merupakan buku bantahan dari “Menebar Dusta Membela Teroris Khowarij” (MDMTK). Lanjutkan membaca ‘Penulis Buku “Mereka Adalah Teroris” Itu Kini Terbaring Sakit’